Senin, 11 Februari 2008

Sejarah Dakwah Kampus ITB



Sejarah Dakwah Kampus ITB tidak bisa terlepas dari Sejarah Pendirian Masjid Salman ITB. Banyak yang telah di alami dan dikerjekan semasa pendirian Masjid Salman ITB. Berikut ini beberapa peristiwa yang masih dapat dilacak, baik dari dokumen-dokumen maupun tuturan para aktifis, dari awal hingga tahun 1972.

19 April 1960
Panitia Masjid ITB dibentuk. Diketuai oleh Hasan Babsel Soetanegara

27 Mei 1960
Shalat Jum’at Pertama di Aula Barat ITB. Bahkan ini mungkin shalat Jum’at pertama di Indonesia yang di lakukan di lingkungan kampus. Khatib : Mohammad Hamron

19 Agustus 1960
Panitia mengirim surat kepada Presiden ITB Prof.R.O. Kosasih yang isinya permohonan mendirikan masjid di Jl. Ganesha yang sedianya digunakan untuk kantor Lembaga Afiliasi dan Penilitan Industri (LAPI) ITB. Permohonan tidak dikabulkan.

Tahun 1961
Shalat Idul Fitri dan Idul Adha yang pertama di kampus ITB. Disembelih 11 ekor kambing kurban pada Idul Adha itu.

13 Oktober 1962
Dimulainya perkuliahan agama di ITB. Dibuka oleh Prof.T.M.Soelaiman.

28 Maret 1963
Dengan persetujuan Presiden iTB Jajasan Pembina Masjid (JPM) ITB disahkan oleh akta notaris Komar Andasasmita nomor 83. Ketua yayasan Prof.T.M. Soelaiman. Modal awal Rp.10.000,-

23 April 1964
Menteri/Panglima AL Laksamana Madya Laut R.E.Martadinata dan Menteri Veteran Brigjen Sarbini Shalat Idul Adha bersama Mahasiswa di kampus ITB

25 Mei 1964
Walikota Bandung, Priatna Kusumah, bersedia menjadi penasihat JPM ITB

Kamis, 28 Mei 1964 jam 07.30
Delegasi JPM ITB yang dipimpin Prof.T.M.Soelaiman dan disertai daiantaranya, Ahmad Sadali dan Ahmad Nu’man, bertemu Bung Karno di Istana. Bung Karno menandatangani rancangan gambar Masjid yang dibuat Ahmad Nu’man dan memberi nama Salman, seorang teknikus di zama Nabi Muhammad SAW.

Jum’at, 29 Mei 1964
Nama Salman di umumkan kepada Jamaah Shalat Jum’at


30 Mei 1964
Bung Karno mengirim surat dengan kop kepresidenan yang menyatakan bersedia menjadi pelindung dan memberi nama Salman

5 Juni 1964
Rektor ITB Prof.Ukar Bratakusuma mengirim surat pada Walikota Bandung tentang ijin pemaikaian tanah di Jl.Ganesha untuk Masjid Salman

Akhir Tahun 1964
Mushallah Salman yang dibangun Dewan Mahasiswa ITB selesai

27 Januari 1965
Keputusan Rektor ITB Prof.Ukar Bratakusuma bahwa JPM ITB satu-satunya yang berwenang dan bertanggungjawab terhadap pengumpulan dana pembangunan masjid ITB.

Selasa sore, 22 Juni 1965
Peresmian menara sekaligus peresmian Pramuka Salman. Ceramah disampaikan oleh Prof.Soelaiman dengan tema Al Ashr.

4 Oktober 1965
Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) ITB dibentuk di Mushalla Salman

2 Maret 1968
Pengesahan Anggaran Dasar baru di depan notaris komar Andasasmita

1 Mei 1968
JPM ITB di ijinkan untuk mendirikan poliklinik di Lingkungan Salman. Namanya Balai Pengobatan SALMAN ITB.

Tahun 1968
Bangunan yang sudah berdiri adalah Mushalla Salman, kantor sekretariat, poliklinik dan kantin.

30 Juli 1970
Memperoleh anggaran proyek untuk menyelesaikan atap beton senilai 20 juta rupiah

9 Juli 1971
Ketua Umum Yayasan Pembina mAsjid Salman ITB diserahterimakan dari Prof.T.M. Soelaiman kepada Drs. Ahmad Sadali

5 Mei 1972
Untuk pertama kalinya Masjid Salman ITB dipakai untuk Shalat Jum’at. Sebelumnya dibuka oleh Rektor ITB. Prof.Dr. Doddy Tisna Amidjaja. Khatib: Prof.T.M. Soelaiman. Imam : Abdul Latif Aziz dan Muazzin : Endang Saifuddin Anshari.

Pendirian Masjid Salman sangat berpengaruh terhadap perkembangan dakwah di kampus ITB. Karena Masjid yang menjadi sentral bagi Islam sudah ada. Sehingga kegiatan-kegiatan ke-Islaman di Kampus ITB berkembang. Tidak hanya itu, adanya Masjid Salman ini juga mempengaruhi pergerakan dakwah kampus di Indonesia.

Rabu, 06 Februari 2008

Internalisasi Dakwah Fardiyah

Protokol #02
Internalisasi Dakwah Fardiyah

Kembali kepada asholah da’i
Perjalanan dakwah di Keluarga Mahasiswa Islam ITB yang telah mencapai usia dua dekade semakin kehilangan khitah da’i yang seharusnya di cita-citakan sejak awal. Karakter seorang da’i yang seharusnya melekat pada jiwa kader atau aktifis dakwah semakin memudar ditelan arus perubahan massa atau objek massa. Perubahan ini terlalu drastis dan cepat, sehingga tuntutan untuk berubah pun menjadi sebuah keharusan. Akan tetapi ada hal yang disayangkan bahwa perubahan ini tidak di ikuti dengan mempertahankan hal-hal yang bersifat fundamental dari fungsi da’i itu sendiri. Dakwah dalam kata kerja dan Da’i yang merupakan bentuk dari pelaku dakwah memilki makna harfiah menyampaikan. Pada hakikatnya kita sangat memahami bahwa menyampaikan adalah sesuatu yang berasal dari diri ini dan disampaikan melalui lisan maupun tindakan.
Berdasar pemahaman diatas, fungsi utama seorang kader dakwah adalah menjadi da’i , dimana dia mengajak seorang mad’u atau objek dakwah untuk kenal Islam lebih mendalam. Seorang aktifis dakwah yang dengan lisannya menyampaikan risalah Islam dan mengajak objek dakwahnya untuk belajar Islam. Hal inilah yang juga dicontohkan oleh Rasulullah, dimana beliau menyampaikan firman Allah di depan umum, diatas bukit atau berkunjung langsung ke tempat-tempat tertentu dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai da’i.
Begitupula kita sebagai seorang kader dakwah, ternyata dituntut tidak hanya pandai menyusun sebuah agenda dakwah, tidak hanya cepat dalam menghafal Al Qur’an, atau tidak hanya baik dalam hal manajemen sebuah organisasi. Akan tetapi seorang kader dakwah juga dituntut bisa menjadi da’i dimanapun dia berada, dengan berkata, mempengaruhi sekitar dengan perkataan dan keteladanan agar objek dakwahnya bersedia belajar Islam lebih mendalam.
Dakwah Fardiyah
Perjalanan dakwah Islam yang sudah memasuki abad ke 15 ada sebuah metode dakwah yang tidak pernah usang. Sebuah metode dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, sebuah metode dakwah yang juga dilakukan oleh Para Khulafaur Rasyidin, dan bahkan metode dakwah yang dilakukan Adam AS, Ibrahim AS, Musa AS hingga Isa AS. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi beliau. Dakwah fardiyah atau dakwah secara personal. Bentuk dakwah personal ini memang sesuai dengan namanya, yakni aktifitas dakwah secara personal dari seorang personal, man to man, woman to woman.
Dakwah fardiyah dalam konteks ke-lembaga dakwah kampus-an, mengkrucut pada sebuah tujuan, yakni mengajak objek dakwah agar ikut atau bergabung dalam pembinaan yang dilakukan oleh Lembaga Dakwah Kampus. Karena pada hakikatnya , berbeda dengan zaman Rasul, dimana yang di dakwah-i oleh Rasul adalah seorang non-muslim atau seorang yang masih kafir. Pada medan dakwah kampus, yang kita dakwah-i adalah seorang muslim yang akan kita ajak untuk mempelajari Islam secara mendalam. Dengan berbagai metode pembinaan yang ada, bisa kita gunakan sebagai wadah untuk mem-follow up hasil pendekatan personal kita. Biasanya wadah yang paling cocok untuk mem-follow up adalah kelompok mentoring. Metode lainnya seperti ta’lim dan mabit juga bisa digunakan follow up masif.
Dalam dakwah fardiyah ini ada beberapa tahap yang bisa kita rangkup dalam istilah 5M.
Mengenali
Fase pertama dalam dakwah fardiyah adalah mengenali calon mad’u. Mengenal tidak hanya sebatas nama dan nomor handphone , akan tetapi betul-betul mengenal secara mendalam. Dimulai dari kita mengetahui kebiasaanya, dimana tempat tinggalnya, lalu apa aktifitas kesehariannya, kesukaan dan ketidaksukaanya, dan lain sebagainya. Mengenali mad’u ini sangat penting, karena akan mempengaruhi metode pendekatan yang akan dilakukan. Dalam buku personality plus, ada 4 tipikal manusia, yakni, sanguinis, melankolis, korelis, dan plegmatis. Buku ini bisa menjadi sebuah pedoman sederhana dalam mendekati mad’u. Selain itu buku bagaimana menyentuh hati karangan abbas assyisi bisa digunakan sebagai pedoman fundamental dalam melakukan pendekatan personal.
Mendekati
Pendekatan yang dilakukan terhadap objek dakwah juga harus berbeda, ada kalanya kita juga harus menyesuaikan dengan bagaimana kedekatan atau seberapa kenal kita dengan mad’u. Pada dasarnya kita tidak perlu mengubah cara kita berkomunikasi atau bersikap kepada beliau. Karena perubahan yang terjadi justru bisa kontraproduktif terhadap dakwah yang kita lakukan. Jadilah diri anda, dan tentukan pola pendekatan yang paling tepat dengan tipikal diri anda.
Seorang mad’u selalu memiliki kekhasan tersendiri. Seorang yang gemar membaca bisa didekati dengan membelikan atau meminjami beliau dengan buku yang menurut kita bisa mengubah paradigma beliau tentang Islam. Sebutlah sirah nabawiyah , atau al islam karangan Sayyid Qutb, atau mungkin buku umum seperti the secret, the world is flat, atau berpikir dan berjiwa besar. Dengan pendekatan buku seseorang bisa tergugah pemikirannya. Kadang kala kita bisa bertemu dengan seorang yang gemar bertanya, bisa saja sesekali kita ajak beliau untuk silahturahim ke tempat seorang ustadz untuk diskusi agama, atau menghadiri ta’lim dengan tema pentingnya pembinaan dan lain sebagainya. Seseorang yang keras kepala harus bisa dipatahkan dan di cairkan dengan pemahaman dan penjelasan yang logis dan realis dari kita. Oleh karena itu, pemahaman Islam yang baik juga menjadi tuntutan seorang da’i. Lain halnya dengan tipikal mad’u yang melankolis-plegmatis, dimana pendekatan intrapersonal, rasa empatik, dan perhatian dari kita bisa menjadi metode yang tepat. Berbagai metode lain bisa berkembang tergantung mad’u dan diri kita sendiri.
Tujuan dari tahapan pendekatan ini yakni membentuk kepercayaan antara diri kita dan mad’u , mengikatkan dan mendekatkan hati, dan menumbuhkan perasaan ingin memperlajari Islam secara mendalam dan konsisten, atau dengan bahasa lain, menimbulkan keinginan untuk mengubah diri sendiri.
Mengajak
Setelah mendapatkan kepercayaan dan kedekatan, tugas kita adalah mengajak mad’u kita untuk mengikuti pembinaan Islam secara konsisten. Bagaimana cara dan waktu yang tepat, tergantung situasional yang ada. Bisa jadi perlu ada diskusi panjang hingga beliau bersedia ikut pembinaan, atau ada yang tipikal langsung di “tembak” langsung, ini tipikal pada mad’u yang sudah dekat secara personal kepada kita, atau untuk mad’u yang agak sulit mengambil keputusan, bisa langsung di undang di agenda pembinaan yang ada. Proses pengajakan ini bukanlah akhir dari proses meskipun mad’u menolak untuk mengikuti pembinaan. Proses fardiyah harus tetap jalan. Jika kita sudah merasa tidak ada prospektif di salah seorang mad’u, maka mengganti calon mad’u bisa menjadi pilihan yang tepat.
Mendo’akan
Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah . Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu'min, dan Yang mempersatukan hati mereka . Walaupun kamu membelanjakan semua yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.
[ al anfaal 62-63 ]
Kekuatan do’alah yang bisa menyatukan hati-hati ini, karena sesungguhnya do’a kita kepada sesama muslim akan menjadi amal yang yang sangat bernilai, kekuatan do’a ini pula yang akan membukakan hati kita semua, memudahkan masuknya hidayah, dan menjauhi godaan syetan. Mendo’akan mad’u menjadi kewajiban bagi seorang da’i.

Menjaga

Terkadang proses follow up dari hasil fardiyah yang dilakukan tidak selalu di-handle oleh kita sendiri. Bisa jadi orang lain yang membina hasil fardiyah kita lakukan. Oleh karena itu kita perlu tetap menjaga hubungan and never loose contact with him/her. Sesekali kita coba tanya bagaimana pembinaan yang beliau dapat, apa kesannya, atau bisa di ajak diskusi sesekali. Beda halnya jika kita yang membina langsung hasil fardiyah yang kita lakukan, proses penjagaan akan lebih mudah karena kita akan bertemu lebih rutin.

Prospek

Melihat perkembangan dakwah syiar event yang semakin semarak dan berdana besar, dakwah fardiyah bisa menjadi media persiapan massa sebelum event atau media follow up setelah event.

Media persiapan sebelum event, dakwah fardiyah bisa sebagai metode yang digunakan untuk mengajak peserta. Dalam tahapan dakwah fardiyah, pengajakan mad’u ke agenda dakwah bisa mempercepat tahapan pendekatan, karena mad’u akan bisa merasakan nuansa Islam di dalam agenda yang diadakan. Dengan mengajak mad’u kita ke agenda dakwah, turut mendukung agenda tersebut dari sisi jumlah peserta.
Media follow up setelah event, pada setiap event yang dilakukan oleh lembaga dakwah kampus , sebaiknya ada presensi atau buku tamu dari pengunjung atau peserta event. Pendataan ini sangat penting, karena dengan data ini kita bisa menghitung berapa massa simpatisan kita yang berpotensi menjadi kader. Sehingga proses follow up akan lebih mudah. Salah satu metode follow up yang bisa digunakan, yakni dengan dakwah fardiyah. Seorang kader kita yang dekat dengan peserta agenda dakwah bisa mendekati beliau, sehingga proses follow up simpatisan menjadi kader kian cepat.

Perkembangan agenda dakwah berbasis event seakan-akan menjadi keharusan pada sebuah lembaga dakwah kampus. Betul memang, ketikan lembaga sudah formal, agenda yang masif harus dijalankan, karena massa juga semakin banyak. Akan tetapi, janganlah hal ini menjadi satu-satunya tipikal agenda merangkul massa. Jika ini terjadi, maka label LDK identik dengan event organizer menjadi layak kita sandangkan. Sungguh sangat zalim bagi kita para pemimpin lembaga dakwah kampus, jika mendidik kader hanya untuk menjadi ahli dalam organisasi, sebuah lembaga dakwah kampus adalah lembaga kaderisasi, maka mendidik kader untuk menjadi da’i dalam konteks mengajak objek dakwah ikut pembinaan dan membina dengan seksama agar objek dakwah bisa menjadi seorang yang memiliki kepribadian Islam. Sehingga, dengan internalisasi dan menjadikan dakwah fardiyah sebagai kebiasaan diantara kader, kita akan menstimulus karakter kader kita untuk memilki kepribadian da’i.

Prospek cerah sangat tampak dalam proyek ini karena ada efek kali yang sangat baik jika proyek ini bisa dijalankan secara konsisten untuk jangka waktu yang lama. Meng-gerilya kan kader kita untuk terus menerus “menjual” dan mempromosikan produk pembinaan kita setiap saat. Kita akan coba hitung bagaimana potensi penambahan kader yang mungkin bisa terjadi dalam perkembangan proyek ini.

Bulan
Jumlah kader
Pertama
50
Kedua
100
Ketiga
200
Keempat
400
Kelima
800
Keenam ( 1 semester )
1600

Dilihat dari tabel diatas hanya dalam 1 semester peningkatan kader kita akan meningkat hingga 32x lipat. Ini jumlah yang sangat fantastis. Angka 50 Kader di awal ini hanya merupakan asumsi, jika jumlah kader real yang ada pada kampus kita lebih banyak. Maka, multiply effect yang terjadi bisa lebih besar, dan perlu dicermati bahwa contoh diatas menggunakan asumsi, setiap kader hanya perlu mengajak 1 objek dakwah dalam waktu satu bulan. Hanya satu orang setiap bulan, bukan jumlah yang besar untuk waktu satu bulan.

Cara kerja dari habiting dakwah fardiyah pada dasarnya akan berbasis sistem yang sederhana. Karena hanya didukung oleh perangkat promosi dan wadah untuk menampung. Terkait pada perangkat pendukung akan di bahas pada bagian selanjutnya. Di akhir bagian prospek ini ada sebuah cara kerja sederhana yang akan kita gunakan dengan memanfaatkan pola pikir dasar seorang manusia.

Lintasan pikiran à memori à gagasan ( pola pikir ) à tekad à amal à tingkah laku à karakteristik

Manusia selalu memulai sesuatu dari sugesti, dan sugesti ini bermula dari sebuah lintasan informasi yang melewati pikirannya. Dalam konteks proyek ini, seorang da’i akan mencoba mengisi lintasan pikiran objek dakwah dengan pentingnya pembinaan, saatnya berubah kearah lebih baik, dan sebagainya. Dengan cara mengingatkan objek dakwah, melalui sms atau telepon atau saat bertemu. Cara lain adalah dengan banyaknya simbol atau pengumuman reklame dan iklan di kampus, agar objek dakwah senantiasa melihat dan menjadikan informasi yang ada sebagai sugesti. Selanjutnya kita akan menstimulus lintasan pikiran ini dengan diskusi, meminjamkan buku , atau mengajak ke pertemuan kader dan ta’lim agar timbul sebuah memori pada objek dakwah. Selanjutnya adalah proses kontemplasi pribadi objek dakwah untuk menyalurkan memori ini menjadi sebuah gagasan atau pola pikir bahwa “saya harus mengikuti pembinaan Islam untuk berubah!”, di saat tekad dari objek dakwah sudah timbul, maka tiba saatnya lah kita mengajaknya untuk bergabung.

Pada proses perkenalan dan pengajakan ini, kita harus bisa menjelaskan apa keuntungannya, apa perubahan yang terjadi pada diri setelah ikut pembinaan, kesempatan apa yang bisa didapat dan segala hal positif lainnya. Mengubah paradigma yang ada pada mad’u, karena sesungguhnya bukan karena alasan tidak mau ,sehingga mereka tidak mau bergabung sebelumnya, akan tetapi karena mereka belum mengetahui apa yang bisa mereka raih dengan mengikuti pembinaan ini.

Perangkat pendukung

Mekanisme kerja dakwah fardiyah pada sebuah LDK berpusat pada dua departemen atau bidang, yakni bidang kaderisasi dan manajemen sumber daya anggota serta bidang koordinasi mentoring. Dua bidang ini harus sinergis satu sama lain.
Kaderisasi dan Manajemen Sumber Daya Anggota
Bidang ini akan berfungsi pada satu hal, yakni penjagaan dan pemantauan proses dakwah fardiyah dengan membuat sel-sel atau kelompok yang bertujuan untuk mengecek keberjalanan yang ada. Sel-sel ini tidak ubahnya seperti usrah atau kelompok mentoring, bedanya kelompok ini tidak di isi dengan majelis ilmu, akan tetapi di isi oleh pengecekkan keberjalanan dakwah fardiyah. Kelompok ini juga di pimpin oleh seorang naqib yang berasal dari seorang yang lebih tua dan diusahakan satu program studi atau fakultas, agar transfer ilmu dalam cara dakwah fardiyah bisa lebih tepat. Pada pucuk tertinggi dari cabang pohon ini adalah para kader inti dari sebuah LDK. Pada kondisi lain, bisa saja fungsi pemantauan ini digabung dengan kelompok mentoring pembinaan atau usrah yang ada. Sebetulnya ini lebih efektif sehingga ketika ada objek dakwah baru yang bergabung akan lebih mudah memantau dan mem-follow up.
Tim Koordinasi Mentoring
Tim ini menyiapkan dua hal,yakni peralatan pendukung dan tabulasi jadwal mentoring.
1. Peralatan pendukung, peralatan ini adalah sarana yang digunakan oleh kader kita dalam mempromosikan mentoring. Sarana ini bisa berupa pamflet yang berisikan tentang segala sesuatu tentang pembinaan dan mentoring, slide powerpoint yang bisa digunakan di laptop untuk “menjual” mentoring. Sarana publikasi seperti poster atau leaflet yang bisa ditempel dan dibagikan, ini berguna dalam mencitrakan mentoring di lintasa pikiran objek dakwah. Merchandise pendukung , seperti kaos untuk mentor kita dengan bertuliskan ”bukan mentor biasa” atau ”supermentor”, pin yang dibagikan ke semua kader dengan betuliskan kata-kata persuasif. Selain itu tim mentoring sedianya membuka stand pendaftaran mentoring di setiap event yang diadakan oleh Lembaga dakwah kampus. Sehingga kita bisa membuka dan menampung seluruh mahasiswa muslim setiap saat.
2. Tabulasi jadwal mentor, kita akan memakai sistem buka kelas pada permentoringan. Setiap mentor diminta menyediakan waktu setiap pekannya 1 sesi , dengan satu sesi selama 1,5 jam. Lalu jadwal semua mentor akan di gabung dan akan mengeluarkan tabulasi jadwal kelas mentoring. Semakin banyak mentor yang ada, akan membuat pilihan dari objek dakwah kian banyak.
Ini merupakan contoh tabulasi sederhana yang bisa dibuat, dengan pilihan jadwal ini ada banyak keuntungan bagi proses dakwah fardiyah yang dilakukan, yakni.
i. Membuat jadwal antara mentor dan binaannya sesuai, sehingga tidak perlu memakan waktu untuk menyamakan jadwal
ii. Memberi kesempatan objek dakwah untuk memilih mentor untuk membina dirinya
iii. Memberi kesempatan seorang objek dakwah untuk memilih teman satu kelompoknya

Mekanisme input data ini bisa mudah dengan teknologi sms, seorang objek dakwah cukup sms ke service centre dengan mencantumkan identitas diri dan waktu mentoring yang diinginkan. Data yang dikirim via sms akan diteruskan ke sistem data mentoring dan ke mentor, sehingga maksimal satu pekan setelah seseorang mendaftar, beliau bisa langsung memulai proses pembinaan.

Mulai dari sekarang !

Untuk memulai sesuatu memang butuh waktu , akan tetapi semakin cepat kita memulai akan lebih baik. Karena semakin lama kita menunda akan semakin banyak pula pertimbangan yang mungkin bisa membuat kita tidak menjalankan sesuatu. Hal yang menjadi langkah awla dan bisa jadi cukup berat, adalah menimbulkan kesadaran atau habit dari kader dakwah kita agar senantiasa mengajak sebanyak-banyaknya mahasiswa di kampus untuk mengikuti pembinaan. Adanya pertemuan kader terpusat bisa menjadi sebuah metode yang diharapkan bisa memberikan pemahaman dan semangat secara masif agar kader bisa bergerak dan menjalankan dakwah fardiyah. Mungkin anda bertanya apakah saya sebagai penulis sudah pernah menjalankannya. Semester silam saya mencoba mempraktekkan secara mini konsep ini. Saya coba praktekkan konsep ini pada kelompok binaan saya di jurusan. Pada awalnya di bulan september, anggota kelompok hanya 8 orang saja. Akan tetapi setiap sms saya ke binaan untuk mengingatkan jadwal mentoring selalu saya beri tambahan “ajak yang lain yah ! ^_^” , dan pada setiap mengisi ta’lim di jurusan saya selalu mengajak untuk ikut mentoring. Alhasil dengan usaha saya dan binaan saya, pada awal bulan desember ( sekitar 3 bulan setelah pertemuan pertama ), jumlah anggota mentoring ini berjumlah 20 orang.

Kita akan membangun sistem disini, dimana ada perangkat pendukung, tools untuk promosi, media pencitraan lintasan pikiran, pertemuan-pertemuan untuk sharing dan berbagi ilmu, sel-sel kecil untuk penjagaan dan pengecekkan, serta wadah mentoring yang siap menampung hasil dakwah fardiyah. Dengan pembangunan sistem, semua kader kita dengan segala tipikal pribadi dan varian kompetensi akan bisa menjalankan amanah ini dengan baik


Tulisan ini ditujukan untuk semua aktifis lembaga dakwah kampus di seluruh Indonesia
Secara khusus saudaraku di makassar yang tengah berjuang melegalkan LDK
Semoga Allah memudahkan semua usaha kita

Tentang penulis :
Ridwansyah yusuf achmad
Kepala LDK keluarga mahasiswa Islam ( GAMAIS ) ITB 2007-2008
yusuf_ahdian@yahoo.co.id
ridwansyahyusuf@gamais.itb.ac.id
http://ridwansyahyusuf.blogspot.com
tulisan ini boleh disebarluaskan ( right to copy ) dengan mencantumkan identitas penulis

Minggu, 03 Februari 2008

tahapan pengembangan Lembaga Dakwah Kampus (LDK)

Tahapan Pengembangan Lembaga Dakwah Kampus ( LDK )

Tahapan dakwah bisa di ibaratkan sebuah anak tangga menuju sebuah hasil. Berpegang pada tahapan ini membuat segala yang kita lakukan menjadi terarah. Tahapan ini tidak dibatasi oleh waktu, akan tetapi tahapan ini merupakan tahapan dimana ada kriteria yang harus dipenuhi sebelum memasuki tahapan selanjutnya. Sehingga bisa saja dalam salah satu tahapan setiap LDK menghabiskan waktu yang berbeda. Apa saja tahapan dakwah yang ada ? dalam tulisan ini saya akan mencoba memaparkan 4 tahap yang bisa dilalui.

Tahap Pertama : membangun basis kader inti
Dalam risalah dakwah yang Rasul ajarkan, sebagaimana kita ketahui ada golongan yang pertama masuk Islam atau kita kenal dengan Ashabiqunal Awwalun. Golongan pertama ini dibina dengan intens oleh Rasul dalam rangka menguatkan fondasi terdalam dan paling bawah dari bangunan Islam. Bisa kita cermati sirah nabawiyah, Rasul mendidik Sahabat ini selama 10 tahun, atau hampir setengah dari masa kenabian beliau, yakni 23 tahun. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul. LDK pun akan melakukan hal yang sama, dengan tentunya waktu yang harus lebih cepat, karena kondisi dakwah kampus yang relatif singkat.
Kaderisasi yang dilakukan pada kader inti ini bersifat khusus dan terbatas, sehingga betul-betul segala yang dibutuhkan untuk dakwah kedepannya diharapkan bisa dimiliki oleh kader inti ini. Hal –hal apakah yang harus dimilki ? dalam hal ini ada 3 kebutuhan utama yang perlu dimiliki.
1. Kepribadian seorang Muslim
kepribadian ini meliputi karakter-karakter yang diperlukan seseorang dalam kehidupannya agar ia bisa menjalankan Islam dan mengajarkannya. Seorang kader inti harus memiliki aqidah yang bersih, ibadah yang benar, akhlak yang baik, tubuh yang sehat, kemampuan menghasilkan atau kuat secara ekonomi, pikiran yang intelek, bersungguh-sungguh dan tekun dalam segala hal, memiliki manajemen diri yang baik, disiplin akan waktu serta mempunyai paradigma untuk selalu bermanfaat bagi orang lain. Dengan adanya kepribadian ini diharapkan seorang kader inti bisa menjadi teladan, bisa menjadi guru dan diterima di kalangan masyarakat luas.
2. Kredibilitas dan Moralitas Pemimpin
Islam mendidik para umatnya untuk menjadi pemimpin bagi dirinya dan kalangannya. Dalam hal ini seorang kader inti, diharapkan bisa menjadi pemimpin dimanapun dia berada dalam rangka mengubah kondisi umat yang dipimpinnya menjadi lebih baik. Bukan untuk kekuasaan semata. Akan tetapi paradigma dakwah dan paradigma memberikan cahaya Islam di muka bumi harus terinternalisasi dengan baik di hati kader inti. Menjadi pemimpin adalah sebuah keniscayaan bagi seorang muslim. Sehingga dalam tahap ini seorang kader inti harus dididik bagaimana menjadi pemimimpin yang kuat dan bertanggung jawab. Seorang pemimpin yang bisa mengayomi seluruh umatnya, seorang pemimpin yang bisa menjadi ulama dan umara dalam waktu bersamaan.
3. Kemampuan khusus lainnya
Setiap manusia dilahirkan dengan potensi , minat , dan bakat yang berbeda. Ada seorang yang ahli dalam hal seni, ada seorang yang mahir berdagang atau saat ini kita kenal dengan entrepreneur, atau ada yang ahli dalam olahraga, dan sebagainya. Kemampuan khusus ini haruslah dikembangkan dengan bijak dan tepat, karena potensi seseorang jika dikembangkan akan jauh lebih cepat dan pesat perkembangannya. Seorang kader inti sebagaimana Rasul juga mendidik sahabatnya , juga memiliki kekhasan tersendiri. Sebutlah Ali bin Abi Thalib yang cerdas dan gemar menuntut ilmu, Umar bin Khattab yang ahli bermain pedang, Mushaf bin Umair yang menjadi pedagang sukses, dan sahabat lainya, yang memiliki potensi besar dan digunakan dengan baik dalam pemanfaatannya untuk kebutuhan dakwah. Seorang kader inti yang ahli dalam seni, bisa jadi dikembangkan dan bisa menjadi kekuatan dalam mengemas dakwah yang lebih komunikatif, seorang yang gemar berolahraga dikembangkan potensinya dalam rangka untuk sebagai duta dakwah diantara para masyarakat yang gemar berolahraga, seorang yang gemar berbisnis, didukung aktifitas bisnisnya agar mampu mendorong perkembangan dakwah dengan kekuatan yang dimiliki.
Pendidikan kader inti ini menjadi tahapan pertama dan menjadi fondasi yang akan menopang agenda dakwah kedepannya. Sehingga perlu dicermati dan ditelaah juga berapa banyak kader inti yang akan ada dan dibina.Pembinaan ini juga harus komprehensif dengan waktu yang tepat. Dengan harapan bisa menjadi core dalam membangun basis massa simpatisan.

Tahap Kedua : membangun basis massa
Setelah terbentuk kader inti , dakwah akan masuk di tahapan selanjutnya, yaitu membangun basis massa. Seringkali kita kenal istilah simpatisan, kurang lebih seperti itu yang akan kita bangun, akan tetapi tidak sekedar massa yang hanya mengatakan mendukung, akan tetapi massa yang senantiasa mengikuti pembinaan yang dilakukan oleh kita. Tujuan dari membangun massa ini adalah memperkenalkan Islam, dan menjadikan Islam sebagai way of life. Islam yang komprehensif dan menjadi solusi dalam kehidupan. Ada dua metode utama dalam memperkenalkan Islam ini.
1. Dakwah dengan melayani
Menilik sirah nabawiyah, proses yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah menjadikan beliau Al Amin setelah itu mengangkatnya sebagai Rasul. Dalam hal ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa Rasul telah sukses melayani kota mekah sehingga beliau diberi gelar tersebut barulah beliau berdakwah, pelayanan dahulu baru dakwah. Memberikan apa yang umat butuhkan, memang butuh kita sadari bahwa kebutuhan umat sangat variatif, akan tetapi justru di situlah seni bagaimana kita bisa membuktikan bahwa Islam bisa sebagai solusi dalam segala permasalahan yang ada. Jika kita membicarakan dakwah kampus, maka yang kita berikan haruslah sesuai dengan kebutuhan, sebutlah menyediakan informasi tempat tinggal yang murah dan nyaman, memberikan pelayanan fotokopi buku atau bahkan menyediakan buku kuliah dan catatan kuliah, menyediakan tempat bertanya terkait Islam dan syariatnya, memberikan informasi dalam bentuk tulisan, booklet tentang kampus, kota , dan lain sebagainya. Pelayanan ini bisa sangat variatif pula bentuknya sehingga semakin banyak yang memikirkan ini akan semakin banyak varian metode dakwah yang bisa digunakan.
2. Dakwah dengan memimpin
Jika konsep dakwah sebelumnya dengan tipikal menyentuh grass root. Dakwah dengan memimpin adalah pendekatan yang lebih struktural. Walau sebenarnya tidak sekaku itu dalam pelaksanaanya. Dengan memimpin dalam sebuah kelompok, mulai dari kelompok kecil seperti ketua kelompok tugas, ketua kelas, ketua lomba riset hingga ketua kelompok yang lebih besar seperti ketua himpunan mahasiswa, ketua panitia dan sebagainya. Dengan memimpin ini seorang kader bisa menunjukkan bagaimana etos kerja yang dimilkinya bisa membawa kelompok tersebut kearah keberhasilan dan kearah lebih baik. Dalam memimpin ini seorang kader juga bisa berdakwah secara kecil-kecilan dan menanamkan kultur Islam di dalam kelompok. Seperti membiasakan shalat tepat waktu, memulai segala sesuatu dengan niat dan do’a, membiasakan berdo’a kepada Allah dalam setiap keadaan, dan memberikan sebuah nilai-nilai lainnya kepada objek dakwah. Sehingga timbul personal trust seseorang kepada kita , dan menilai bahwa kader kita adalah seseorang yang kuat dan bertanggung jawab, serta mulai meyakini bahwa pola hidup atau way of life yang dilakukan dan dianut oleh kader kita adalah sebuah pemahaman yang baik. Harapan yang bisa timbul adalah kedepannya ada kepercayaan yang ada di masyarakat, dan ketika kader kita menyampaikan risalah Islam, tidak terjadi penolakan diantara masyarakat atau bisa dikatakan objek dakwah kita menerima apa yang akan kita sampaikan.
Setelah menjalani dua varian metode ini, dakwah ini juga butuh sebuah wadah yang bisa menampung simpatisan ini untuk mengikuti pembinaan dan menjadi bagian dari massa kita juga. Wadah ini diharapkan bisa menjadi media yang tepat dalam mengembangkan potensi simpatisan ini agar selanjutnya bisa menjadi kader dakwah pula. Sistem permentoringan atau dalam istilah lain kita kenal dengan usrah atau liqo’ atau halaqoh menjadi wadah yang sangat tepat untuk menampung dan membina para objek dakwah ini. Mentoring adalah proses transfer nilai antara mentor dan binaanya. Dalam proses mentoring ini seorang mentor diharapkan bisa membina 7-10 adik mentor atau binaanya dan memberikan ilmu serta pemikiran yang ada dalam rangka membuat frame berpikir yang Islami. Proses mentoring ini tidak hanya sampai pada tahapan memberikan ilmu, akan tetapi lebih lanjut, mentoring ini bisa menjadi sebuah keluarga kecil bagi para anggotanya. Oleh karena itu makan seorang mentor diharapkan bisa memilki beberapa fungsi , antara lain :
a. Guru, seorang guru yang memberikan ilmu kepada muridnya
b. Pemimpin, seorang pemimpin yang bisa mengarahkan binaanya menuju masa depan yang sesuai dengan koridor yang benar
c. Kakak/Sahabat, sebagai tempat mencurahkan isi hati dikala susah dan butuh bantuan
d. Da’i, dimana seorang mentor tidak hanya memberikan ilmu, akan tetapi juga menyiapkan binaanya untuk menjadi calon mentor di masa yang akan datang
Proses dalam mentoring ini bisa dengan mudah terus bertambah, dan bercabang hingga tidak terbatas, kader inti yang telah dibina sebelumnya sebisa mungkin menjadi mentor utama, dan diharapkan bisa mengembangkan cabang dan ranting kelompok mentoringnya hingga tak terbatas. Disinilah bagaimana kita akan menguatkan basis massa, basis massa yang kuat akan menopang dakwah ini dan memudahkan langkah kita untuk mebuat gerakan dakwah kita lebih terbuka dan masif.

Tahap ketiga : membangun basis institusi
Pada tahap ini dakwah yang dilakukan di kampus sudah mulai terlembagakan secara formal dan wajar dalam sebuah instansi dakwah bernama Lembaga Dakwah Kampus ( LDK ). LDK disini dibangun atas kebutuhan dan tuntutan dari basis massa yang ada, karena bagaimana pun sekelompok orang atau komunitas yang mempunyai tujuan perlu dilembagakan secara formal agar gerak dakwah menjadi lebih mudah dan legal. Perlu dipahami bahwa dengan mengikuti tahapan yang ada, pembangunan LDK ini menjadi lebih kepada kebutuhan alamiah ketimbang memaksakan pembangunan LDK. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memulai melegalkan dan mendirikan LDK ini.
a. Basis Massa yang Setia
Dalam membuat sebuah lembaga di kampus, biasanya memerlukan quota minimal untuk mendirikannya. Quota minimal ini selain untuk memenuhi syarat birokrasi , juga untuk memastikan agar regenerasi dakwah yang ada dapat berjalan. Keberadaan basis massa ini diharapkan terdiri dari berbagai angkatan yang masih ada di kampus. Selanjutnya basis massa inilah yang akan menjadi bangunan yang kokoh dalam mengembangkan LDK di masa yang akan datang.
b. Birokrasi Kampus yang Mendukung
Perlu dipahami bahwa keberadaan LDK tidak bisa terlepas dari kampus dan tata tertib serta birokrasi yang ada di dalamnya. Pendekatan personal ke pihak rektorat, dosen, dan birokrasi kampus lainnya adalah sebuah tuntutan yang perlu kita penuhi agar proses legalisasi ini bisa berjalan mulus. Pendekatan ini dilakukan sejak kita mempunyai basis massa, agar ketika jumlah massa yang dimiliki cukup, pendirian LDK menjadi lebih mudah.
c. Bentuk Lembaga Dakwah Kampus
Menurut pengamatan saya ada beberapa bentuk yang bisa di ajukan sebagai wadah legal formal LDK. Bentuk LDK yang pernah ada antara lain.
Pertama, LDK sebagai unit kegiatan mahasiswa, dimana LDK sebagai unit kerohanian, ini adalah bentuk ideal dan paling diharapkan bisa terbentuk.
Kedua , LDK dengan bentuk Dewan kesejahteraan Masjid, bentuk LDK seperti ini, jika ternyata sudah ada LDK lain di kampus, atau pihak birokrasi ternyata tidak setuju dengan adanya LDK.
Ketiga , LDK berada di bawah Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ), LDK ini berada di bawah departemen kerohanian di BEM.
Keempat, Jika ternyata sudah ada LDK lain yang kuat, pergerakan dakwah ini bisa dengan membangun basis lembaga dakwah di Fakultas, dengan bentuk LDF, perlu disadari bahwa massa real yang ada kampus berada di fakultas, dan dengan adanya lembaga di fakultas ini daya rangkul kader kita akan lebih optimal.
Kelima, Jika ternyata, di kampus sudah ada LDK lain, yang mungkin kurang begitu aktif, dan pihak birokrasi tidak mengizinkan adanya LDK lagi, maka proses infiltrasi ke LDK yang sudah ada menjadi pilihan. Dengan basis massa yang sudah kuat dan setia, kader kita bisa saja secara bertahap mengisi pos-pos yang ada di LDK tersebut, hingga suatu saat ketua LDK beserta jajaran tim intinya adalah kader kita yang punya pemikiran dan gerak dakwah yang sesuai, memang butuh waktu lama akan tetapi, pola ini akan lebih “cantik” dan “apik”.
Setelah Lembaga ini terbentuk perlu dipenuhi beberapa syarat kelengkapan lembaga agar fungsi lembaga dakwah ini bisa optimal. Kelengkapan ini antara lain.
Pertama, Adanya tata organisasi yang sesuai, adanya ketua,sekretaris,bendahara, dan ketua departemen . Untuk LDK mula, departemen yang dibutuhkan antara lain, departemen kaderisasi, departemen syiar dan pelayanan kampus, serta departemen dana. Tiga departemen ini bisa dikatakan kebutuhan dasar sebuah LDK. Dengan pertimbangan jumlah SDM yang terbatas, adanya tiga departemen ini seharusnya bisa menjalankan fungsi LDK dengan baik. Dalam perkembangannya, sebuah LDK diharapkan bisa memenuhi beberapa fungsi lainnya yang menjadi fungsi pokok ( sektor dakwah ) dan diturunkan dalam bentuk departemen, yakni :
a. Sektor Internal ( kaderisasi, mentoring, rumah tangga )
b. Sektor An nisaa / Kemuslimahan
c. Sektor Syiar dan Pelayanan Kampus ( media, event )
d. Sektor Keuangan
e. Sektor Jaringan ( Humas )
f. Sektor Akademik dan Profesi
g. Sektor Kesekretariatan ( administrasi, Litbang )
Tujuh sektor ini adalah representatif dari bentuk serta fungsi yang harus dipenuhi LDK dalam keadaan ideal. Memang butuh waktu dalam membangun LDK hingga tahap ini, akan tetapi bisa saja dalam proses perkembangan LDK , dua fungsi bisa digabung dalam satu departemen. Tergantung dari kapasitas dan kuantitas kader yang ada.
Kedua , Diperlukannya sebuah tata nilai dan tata hukum atau pedoman dakwah yang diberlakukan di sebuah organisasi termasuk LDK. Kebutuhan pedoman dakwah ini, antara lain Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Visi dan Misi serta perangkat sederhana lainnya yang bisa membuat kader kita terarah dalam menjalankan gerak dakwahnya. Seiring waktu, sebuah LDK juga perlu memiliki pedoman dakwah yang lebih advance, ada beberapa contoh disini, Saudara kita di SALAM UI mempunyai Manajemen Mutu SALAM UI (MMS UI), dimana di dalamnya terdapat berbagai aturan dan norma serta standarisasi yang digunakan dalam pengelolaan LDK. Kawan-kawan di UNDIP, memiliki sebuah komitmen bersama antara LDK dan LDF sehingga gerak dakwah LDK dan LDF menjadi sinergis, di GAMAIS ITB, kami memiliki Pedoman Lembaga Dakwah Kampus GAMAIS ITB ( PLDK GAMAIS ITB ), dimana di dalam nya terdapat blue print GAMAIS ITB 2007-2013, Rencana Strategis Jangka Panjang 2008-2010,dan Panduan Fiqih Praktis Aktifis Dakwah. Berbagai bentuk yang ada disesuaikan tergantung kebutuhan dari LDK, semakin besar LDK, semakin detail pula aturan yang ada, karena dalam tahapan kemandirian LDK, sistem lah yang akan dibangun, karena dengan sistem yang kuat, akan menghasilkan kader yang kompeten pula di masa yang akan datang.
Ketiga, Adanya mekanisme kaderisasi berkelanjutan bagi kadernya. LDK adalah lembaga kaderisasi, sehingga fungsi kaderisasi atau membina kader menjadi fungsi utama, dan harus senantiasa menjadi dinamo yang tidak kenal henti. Sebuah lembaga yang baik haruslah memberikan kemanfaatan bagi kadernya. Meningkatkan kapasitas serta keilmuan yang bisa menunjang aktifitas kader di LDK maupun di kehidupan sehari-hari. Ini menjadi syarat yang mutlak untuk memastikan sistem regenerasi LDK ini bisa berkelanjutan dan membuat dakwah kita di kampus bisa bertahan lama.

Tahap Keempat : Membangun bangunan kampus secara keseluruhan dengan konsep Islam
Legalitas LDK yang ada memudahkan gerak dakwah kita menjadi lebih dinamis dan bebas. Kekuatan formal lembaga ini memberikan banyak kemudahan bagi kita untuk berbuat lebih di kampus. Pada tahap keempat ini varian metode dan objek dakwah semakin luas, dan bisa dikatakan tidak terbatas, semua tergantung manajemen kreatiftas dan inovasi dari kader LDK. Lingkup dakwah pertama yang harus dipenuhi adalah civitas akademika di kampus kita. Selanjutanya bisa meningkat menjadi lingkup Kota lalu nasional, dan Internasional. Pada lingkup civitas akademika ini ada beberapa stakeholder yang bisa kita lakukan pendekatan dakwah.
Mahasiswa, objek utama dalam dakwah kampus kita, ketika lembaga sudah ada, metode dakwah bisa kian variaif. Pembuatan event syiar, seperti ta’lim, tabligh, outbound, kajian, olahraga bareng atau mungkin mabit. Media LDK juga bisa semakin terbuka, seperti pamflet, poster, spanduk, baligo, atau perangkat multimedia lainnya. Dengan adanya lembaga yang legal, agenda syiar pun seharusnya akan mendapat respons lebih dari massa kampus. Akan tetapi walaupun sudah ada lembaga yang formal, metode dakwah dengan pelayanan, dakwah dengan memimpin serta wadah mentoring yang ada harus tetap dijalankan. Karena ini merupakan metode klasik yang masih bisa digunakan sampai kapanpun.
Dosen , dakwah ke dosen butuh pendekatan yang lebih persuasif, cara dakwah ke dosen bukan dengan menceramahinya akan tetapi dengan memberikan kesempatan kepada beliau untuk mengisi di acara-acara LDK sesuai dengan kompetensinya atau melibatkan dosen dalam kegiatan seperti sebagai penasihat atau tempat konsultasi. Selain itu memberikan sedikit kenang-kenangan kepada dosen, seperti buku, bisa menjadi media dakwah yang tepat untuk dosen, karena dosen biasanya gemar membaca. Dengan adanya keterlibatan ini, dosen akan mempunyai sense of belonging terhadap LDK dan akan lebih peduli terhadap gerak dakwah kita dan LDK kita.
Birokrasi kampus, pendekatan ke birokrasi kampus hampir sama dengan pendekatan ke dosen. Akan tetapi bisa ditambah dengan silahturahim rutin dalam rangka meningkatkan kedekatan dan kepercayaan satu sama lain. Dengan kedekatan dan kepercayaan ini, gerak dakwah kita akan lebih di dukung dan bisa lebih cepat berkembang.
Karyawan Kampus, karyawan dalam hal ini ada elemen administrasi kampus, satpam, penjaga kantin, merupakan bagian dari kampus yang perlu kita dakwahi. Keteladanan kita, budi pekerti serta akhlak yang baik serta dikenal sebagai mahasiswa yang bermoral menjadi metode dakwah yang bisa digunakan, dukungan dari karyawan kampus ini biasanya juga akan mendukung dakwah secara umum. Karena jumlah mereka yang banyak dan punya peran di kampus. Selain itu, pengadaan ta’lim khusus karyawan atau mungkin memberikan bingkisan untuk mereka di momen tertentu bisa menjadikan kedekatan kita dengan mereka lebih erat.

Pengamatan saya menilai tidak ada metode dakwah yang terbaik diantara metode dakwah di berbagai kampus, yang ada adalah metode dakwah yang tepat. Setiap kampus mempunyai kekhasan tersendiri, dan menjadi tanggung jawab bagi kita untuk bisa mengformulasikan metode dakwah yang paling tepat untuk kampus kita. Berpegang pada tahapan ini, akan sangat membantu paradigma berpikir kita dalam mengembangkan Lembaga Dakwah Kampus.

Tulisan ini ditujukan untuk semua aktifis dakwah di Indonesia
Terutama untuk saudara ku yang sedang berjuang membangun LDK
Untuk saudaraku yang sedang berjuang menguatkan LDK
Untuk saudaraku yang akan mempercepat pertumbuhan LDK di wilayahnya
Dari LDK mula, LDK muda, LDK madya, dan hingga LDK mandiri

Ditulis oleh
Ridwansyah yusuf achmad
Kepala LDK GAMAIS ITB
http://ridwansyahyusuf.blogspot.com
yusuf_ahdian@yahoo.co.id
ridwansyahyusuf@gamais.itb.ac.id

tulisan ini boleh disebarluaskan secara bebas dengan mencantumkan identitas penulis (right to copy )
semoga bermanfaat

Sabtu, 02 Februari 2008

kisah seorang anak

sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar
meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak
tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun.
Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk
bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang
dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai
tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari
marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru
ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak
jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan
kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin
menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka
ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya,
gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut
imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu
rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil
yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama
lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus
menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" .... Pembantu rumah yang tersentak
dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah
padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi
diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak
tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?"
hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari
kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "DIta yg membuat gambar itu
ayahhh.. cantik ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja
seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang
ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2
ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis
kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si
ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas
dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup
lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya.
Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut
menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil
luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil
menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga
menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si
pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan
anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah
tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan
obat saja!" jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang
menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi
pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah
menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari
bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya
ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk
kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita
dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu
badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00
sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah
dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit
karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap
dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata
dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong
karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah
bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus
dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan
terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti
berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata
isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan
pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan
habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua
tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian
ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua
menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan
air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak
mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah..
sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa
sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah
pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak
akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?...
Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil
lagi, " katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar
kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah
terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada
akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan
ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski
sudah minta maaf...

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran
bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya
dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi...,
Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb
tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..


JT 795


JT 795 ujung pandang-jakarta

ada hal yang lucu dan geli ketika saya dan luthfi pulang ke jakarta

sejak check in saya sudah geli dengan pelayanannya,saya harus check in dua kali, yang pertama check in barang, dan yang kedua check in tempat duduk

kegelian berlanjut, dimana kami harus bayar airport tax, lalu 30 detik kemudian harus disobek oleh petugas.... lalu yang membuat saya geli adalah cara memanggil penmpang seperti di terminal
'JT 795 siap berangkat'
"JT 795 di pintu 1"

panggilan ini tanpa microphone, tapi petugas yang berteriak

lalu kegelian ini berlanjut, ketika melewati pintu pembatas, saya bingung harus kemana?
dan saya tanya petugas ..

"mba, pesawatnya yang mana ?"
"itu tuh yang di samping garuda.."

gilee, sumpeh deh, udah kayak di terminal banget

dan terakhir yang buat saya tertawa dengan luthfi, ketika tiba di moncong pesawat, seorang petugas berkata dengan berteriak sedang

"jakarta mas ?"

udah kayak di terminal
"caheum mas ?"
hahahha

gak penting sih

cuma geli aja

no offense

wahai istriku

wahai istriku

wahai istriku
aku tak sekaya sulaiman
tak sesabar ayyub
tak sekuat musa
apalagi setampan yusuf
aku hanya manusia akhir zaman
yang bercita-cita membahagiakanmu
bermanfaat untuk agamaku

wahai istriku
ingatkan aku dikala lalaiku
jika aku nakal
bawa aku ke tempat yang baik
agar tak nakal
jika aku dzalim dorong aku agar sampai
pada lubang ma'ruf
jika aku cengeng seperti bayi
tenangkan aku dengan wajah bercahayamu

sop saudara


sop saudara, lagi-lagi sop,memang makanan khas makassar ini banyak berkutat di seputar sop berisi daging dan lain-lain. begitu pula sop saudara ini, dengan kuah yang lebih bening ini sop saudara berisikan daging dan beberapa babat di dalamnya. sop saudara ini di makan bersama ikan bakar , ada berbagai jenis ikan yang bisa digunakan untuk menemani sop saudara ini, tergantung dari selera, ikan ini juga di sajikan dengan urap, dan saus kacang sebagai penambah rasa. ada hal yang unik dari ikan bandeng yang saya pilih, berbeda dengan ikan bandengn di pulau jawa, di makassar, ikan bandengnya sangat tebal.

sop saudara ini biasanya dijual bersampingan atau bahkan pada toko yang sama dengan sop konro...