Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Februari 2008

kader adalah wajah LDK

Protokol #08

Kader adalah wajah LDK

Suatu hari saya mendatangi sebuah tempat makan, alasan saya datang ke tempat tersebut adalah karena tempat makan tersebut terkenal memiliki makanan yang lezat. Dengan sebuah harapan besar, bahwa saya akan mendapatkan makanan yang lezat, saya masuk ke sana. Setiba disana harapan yang ada tiba-tiba buyar. Saya dan teman duduk di tempat makan tersebut dan tidak ada satupun pelayan yang menghampiri. “kok gw dicuekin sih” pikir saya dalam hati. Teman saya langsung saja memanggil pelayan, dan tanpa disangka pelayan tesebut hanya memberikan menu dan kertas serta alat tulis, tanpa penjelasan atau perkenalan apa-apa. Lalu kami memesan, dan hingga kami selesai makan, bisa dikatakan pelayanan yang kami dapat sangat buruk, dan makanan yang kabarnya lezat tersebut tampak hambar dan tanpa kelebihan apa-apa.
Suatu hari saya ke sebuah toko buku dan membeli buku “starbucks experience”. Membaca buku itu dalam waktu singkat membuat saya tertarik untuk datang ke starbucks dan menikmati “pengalaman” yang khas starbucks. Dalam buku tersebut dijelaskan bagaimana sistem staffing di starbucks menuntut jiwa staff yang baik, ramah dan murah senyum, karena starbucks yakin bahwa staf atau dalam hal ini pelayan adalah garda terdepan dan akan memberikan pencitraan kepada pelanggan. Pada suatu siang, saya meniatkan diri untuk merasakan “pengalaman ala starbucks”. Setiba disana saya disambut dengan senyuman seorang pelayan, dan dalam perjalanan ke counter pembelian, dan nuansa cozy saya dapati dalam toko tersebut. Melihat wajah cerah dan ramah dari pelayan membuat saya semakin nyaman. Setiba di counter –lagi-lagi- saya disambut dengan muka bahagia pelayan dan menawarkan berbagai minuman kopi yang ada. Mungkin dia bisa melihat saya bukan pelanggan starbucks, akan tetapi seorang yang pertama kali datang, sehingga bingung ingin memilih minuman yang mana-secara banyak jenis kopi di starbucks-. Dan seketika saya seperti dibimbing untuk memilih kopi yang tepat.
“mau yang dingin atau yang panas” pelayan tersebut bertanya.
“hmhmh..kayaknya yang dingin deh” saya menjawab

Lalu pelayan tersebut melanjutkan “kalo yang dingin kami ada yang ini.... ini .... ini ....( saya lupa nama pastinya)”. “tapi biasanya anak muda suka yang frappucinno blended ....”
“yawda yang itu aja” saya memutuskan.
Pelayanan yang mengesankan berlanjut, pelayan tersebut menunjukkan kepada saya counter additional ingredients , semacam tempat untuk menambahkan gula, susu, atau coklat bubuk. Lalu saya duduk, entah mengapa ramahnya pelayan-pelayan di starbucks membuat saya jadi nyaman, dan harga kopi yang mencapai 40.000 rupiah terasa sebanding dengan apa yang saya dapat.
Kisah diatas adalah perbandingan dua kisah yang pernah saya alami. Saya berpikir saat menikmati kopi starbucks. Kalau semua kader LDK punya jiwa ramah, murah senyum, bersikap postif dan selalu bahagia. Alangkah indahnya dan mudahnya bagi LDK untuk mengajak massa kampus lain untuk bergabung dengan LDK ( atau dalam hal ini tertarik untuk mengikuti agenda LDK ). Semakin saya sadari lagi, bahwa kader adalah agen, sekaligus sales, sekaligus media promosi, dan juga wajah yang akan memberikan pencitraan kepada LDK.
Seorang kader yang baik, ramah, berbudi pekerti baik akan memberikan dampak positif dan pencitraan yang baik pula untuk LDK. Seorang kader yang berkemampuan akademik baik serta memilik IP yang tinggi akan membuat massa kampus melihat bahwa kader LDK adalah kader yang pintar-sebuah citra baik untuk LDK-. Seorang kader yang bijak, murah senyum dan gemar menyapa langsung objek dakwah, akan memberikan sebuah persepsi bahwa LDK inklusif.
Memang perlu disadari bersama bahwa kader adalah media promosi paling efektif. Kita perlu membiasakan kader terlibat secara personal dalam mengajak mahasiswa untuk datang ke acara yang kita adakan. Jangan hanya mengandalkan poster atau pamflet. Kader LDK adalah wajah dari LDK. Baik buruknya kader adalah cerminan dan persepsi terhadap LDK. Seorang pemimpin LDK perlu menjamin kualitas dari kader ini sebagai agen dakwah.
Mempersiapkan kader untuk berdakwah dimanapun dia berada, perlu berbagai pembekalan. Poin kedua yang harus disiapkan setelah ilmu yang mencukupi, adalah interpersonal kader yang supel, ramah, murah senyum dan bijak. Pendekatan ini sangat penting dan semua kader harus memahami dengan baik. Kembali kepada konsep bahwa LDK adalah lembaga berbasis kader, maka kader kita harus disiapkan dengan baik.
Berikut saya akan memberikan tips bagaimana seorang kader harus memiliki paradigma berpikir secara individu, yang dimana konsep ini bisa dijadikan nilai dasar kader dalam menyiarkan Islam secara personal. Tips ini bisa digunakan untuk berbagai hal seperti pencitraan LDK, dakwah fardiyah, mempromosikan kegiatan atau bahkan dalam pengajuan proposal sponsorship.
Soul to Soul
Telinga hanya bisa disentuh dengan mulut, dan mulut hanya bisa diredam dengan telinga. Begitupula, hati, yang hanya bisa luluh oleh hati. Seseorang yang bahagia akan terpancar dari senyumnya. Seseorang yang memahami betul apa yang dilakukan akan terpancar dari tatapan matanya. Seseorang yang sungguh sungguh melakukan sesuatu hal akan tampak dari raut wajahnya. Begitulah kurang lebih inti dari soul to soul, seorang kader yang memahami apa yang dilakukan dan diniatkan dengan ikhlas, lalu dilakukan dengan sungguh-sungguh, sehingga kebahagiaan dan kepuasan tampak pada diri seorang kader.
Jiwa seperti inilah yang dibutuhkan seorang kader, kekuatan ini akan berdampak pada konsistensi seorang kader. Karena ia menjalankan segala sesuatu dalam dakwah dengan pehamaman yang kuat, dan hati yang ikhlas. Sehingga ketika ada tantangan atau rintangan,tidak menjadi sebuah alasan untuk mundur, tapi justru menjadi penambah semangat untuk bisa berjuang lebih. Ketika ada kekecewaan yang di alami, tidak menjadi alasan baginya untuk mundur, karena Allah lah tujuan ia semata.
Seorang dosen saya pernah mengatakan “kamu harus all out dalam segala hal”. Penjiwaan dalam melakukan aktifitas dakwah akan memberikan dampak kader sangat all out dalam berdakwah. Konsep ruhiyah yang saya pahami adalah, keterlibatan jiwa ini pada setiap aktifitas kita. Bukan hanya sekedar berapa banyak halaman Al Qur’an yang dibaca atau berapa lama shalat malam yang dilakukan. Karena ibadah tersebut hanya akan jadi ibadah biasa jika tidak berdampak pada semangat kita bergerak.
Kekuatan soul to soul ini pula yang akan memberikan pencitraan di massa kampus. Orang luar LDK akan melihat kader kita sungguh-sungguh dan penuh kerja keras dalam setiap urusan. Pencitraan ini memberikan dampak positif bagi LDK dalam mengembangkan sayap dakwahnya.
Spiritual and Strong
Seorang kader dakwah harus memiliki kedekatan kepada Allah dengan baik. Kedekatan ini terpancar dari sikap yang tampak. Seorang yang dekat dengan Allah biasanya mempunyai kharisma yang kuat. Kedekatan ini bisa diperoleh dengan banyaknya interaksi kader dengan Qur’an dan rutinya ibadah kepada Allah, terutama ibadah mahdah seperti shalat dan tilawah. Kekuatan spiritual ini sangat berdampak pada ketenangan diri dalam mengambil kebijakan. Salah seorang mantan kepala GAMAIS ITB pernah berkata kepada saya, bahwa sejak menjadi kepala GAMAIS ITB, jumlah tilawah beliau tidak pernah kurang dari 3 juz setiap hari. Seorang kepalda GAMAIS ITB lain bercerita, bahwa ia tidak mau memimpin sebuah rapat jika malamnya ia tidak shalat malam. Kedekatan ruhiyah adalah paramater keberhasilan dakwah, dan keberkahan dakwah yang kita lakukan sangat tergantung pada kedekatan kader kepada Allah.
Dampak langsung dari kekuatan spiritual ini adalah, ketenangan dan kedamaian dalam LDK, LDK akan tenang dan nyaman. Serta Allah senantiasa membukakan hati-hati kader kita untuk terus bergerak. Bergerak tanpa diperintah, bergerak dengan sepenuh hati dalam naungan Islam. Karena sesungguhnya Allah lah yang membukakan hati ini, dan Allah pulalah yang menyatukan hati ini. Hati kita dengan semua kader LDK, dan hati kader LDK dengan semua mahasiswa di kampus.
Selain itu kader dakwah harus berjiwa ksatria, pantang menyerah dan selalu optimis. Seorang
kader dakwah tidak boleh berpikir negatif terhadap LDK nya. Anda harus menanamkan dalam pikiran anda bahwa andalah yang terbaik, dan LDK anda adalah yang terbaik. Dalam buku “the secret” yang pernah saya baca. Dikenal dengan istilah “law of attraction”, sebuah pemikiran bahwa alam akan memantulkan apa yang kita pikirkan dan alam akan mendukung apa yang kita inginkan.
Saya selalu mencoba membuat benak dan pikiran saya akan suatu hal yang positif, ketika awal saya menjadi kepala GAMAIS ITB, saya pernah berpikir bagaimana lembaga dakwah program studi dan lembaga dakwah fakultas bisa berjalan seiring dengan GAMAIS ITB. Saya selalu memikirkan ini dan menyampaikan juga gagasan saya ke kawan kawan yang lain, dan hasilnya setelah 6 bulan kami mengembang amanah di GAMAIS ITB cita-cita itu tercapai yang terbukti dengan suksesnya muktamar GAMAIS ITB, dimana saat itu pertama kali dalam sejarah GAMAIS ITB, visi, misi serta rancangan dakwah kita selama 6 tahun mendatang dipikirkan bersama antara GAMAIS pusat, Lembaga dakwah program studi, dan lembaga dakwah fakultas, dan kata ganti “kita” mulai muncul sebagai representatif dari GAMAIS pusat, Lembaga dakwah program studi, dan lembaga dakwah fakultas. Saat ini ketika disebut GAMAIS maka yang dimaksud adalah LDK, LDF, dan LDPS.
Seorang kader dakwah pun harus pantang menyerah dalam kegagalan. Sudah menjadi hal yang lumrah manusia gagal. Seorang yang hebat bukanlah seorang yang tidak pernah gagal akan tetapi seorang yang cepat bangkit dari kegagalan. Jika gagal membuat sebuah agenda, maka seorang kader dakwah harus cepat bangkit dan memulai merencanakan sebuah agenda yang lebih baik. Jika gagal mengajak seseorang untuk ikut mentoring, maka soerang kader dakwah harus cepat beralih ke target yang lain untuk di ajak mentoring.
Selain itu pandangan optimis harus terus ditanam dengan baik di pikiran setiap kader dakwah. Optimis bahwa LDK akan terus berkembang dan maju, optimis bahwa semua masalah bisa diselesaikan. Seorang Arya Sandhiyudha ( mantan ketua SALAM UI ) pernah berpesan pada saya “ingat, masalah bukan problem, tapi priority. Jadi selesaikan, jangan ditunda, apalagi dilimpahkan ke orang lain” . Seorang kader LDK juga harus bersikap positif terhadap semua tantangan yang dihadapi, karena dengan ujian dan tantangan lah. Diri ini akan semakin kuat dan berpengalaman.

Smile and Shinning
Ada dua buah kisah yang ingin saya sampaikan. Pertama, di sebuah siang hari di kota Jakarta, terjadi kemacetan yang sangat hebat di wilayah pusat kota. Saat itu seorang wanita membawa mobil seorang diri. Mungkin karena panas dan dirinya sedang penat akibat macet, ia tidak sengaja menabrak mobil di depannya. Kota Jakarta yang keras membuat pemilik mobil yang tertabrak turun dari mobil dan mendatangi wanita tersebut. Akan tetapi dengan kekuatan pengendalian diri yang baik, perempuan itu menghadapi pemilik mobil yang ditabraknya, seorang pria besar mendatangi wanita itu dengan marah-marah. Tidak dengan emosi, tapi dengan senyuman yang lebar, wanita itu meminta maaf. Karena senyuman inilah, hati pria tersebut melunak, dan sepakat tidak memperpanjang masalah.
Kisah kedua, Tahun lalu saya berkesempatan mengunjungi kota Singapura, teringat sebuah pemandangan yang menurut saya, hasil didikan yang baik dari pihak manajemen hotel ke seorang receptionist . Saya melihat seorang receptionist terlibat sedikit konflik dengan tamu hotel, saya melihat dari jauh, dan tampak tamu hotel tersebut complain akibat misscommunication. Konflik dapat ia selesaikan dengan sedikit ancaman dari tamu hotel tersebut, yang membuat saya takjub adalah, sang receptionist tersebut bisa melayani tamu hotel selanjutnya dengan senyum lebar, seakan-akan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Dari dua kisah ini saya melihat ada kekuatan tersendiri serta pencitraan yang ramah dan lembut dengan kekuatan senyuman yang lebar dan bercahaya. Senyuman pula yang membuat hati ini senantiasa berbahagia dalam keadaan sulit sekalipun. Sebuah perusahaan jasa mendidik staffnya untuk selalu tersenyum agar pelayanan yang diberikan bisa maksimal.
Kader dakwah butuh memiliki senyuman yang ikhlas. Kekuatan senyuman ini kadang lebih kuat ketimbang rangkaian kata berbobot yang disusun semalaman. Diskusi saya belum lama ini dengan salah seorang ketua himpunan memberikan saya masukan bahwa ternyata mahasiswa ini butuh kader kita yang ramah dan lembut dan kerap menyapa dan mengajak mahasiswa lain untuk kebaikan. Mereka butuh disapa, mereka butuh di datangi dan mereka butuh untuk diajak dengan keramahan dan kelembutan diri seorang kader.
Sahabat aktifis LDK di seluruh Indonesia, seringkali LDK menjadi tidak berkembang karena bingung merangkai sebuah agenda. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa berapa banyak agenda yang dibuat tidak menjadi parameter utama dalam keberhasilan LDK. Kedekatan dan meningkatnya kapasitas serta jumlah kaderlah yang menjadi parameter utama. Seringkali pula kita terlalu mengandalkan media-media mahal sebagai alat publikasi, padahal kita punya kader LDK yang bisa digunakan untuk media promosi paling baik untuk LDK.
Kader adalah wajah sebuah LDK. Baiknya citra kader maka baiklah citra LDK, buruknya citra kader maka buruk pula citra LDK. Untuk itulah pembinaan terhadap kader harus diprioritaskan. Karena kader lah yang membuat LDK maju atau mundur.
----------
Terinspirasi dari pelayan starbucks dan receptionist hotel di Singapura, serta pemikiran seorang Rendy Saputra ( ketua majelis syuro GAMAIS ITB )




Kamis, 21 Februari 2008

Tahapan kaderisasi Lembaga Dakwah Kampus ( LDK )

Protokol # 07

Tahapan kaderisasi Lembaga Dakwah Kampus ( LDK )

LDK sangat erat kaitannya dengan lembaga kaderisasi, karena memang LDK pada mulanya didirikan untuk mengkader para mahasiswa agar memiliki pemikiran dan kapasitas seorang muslim yang komprehensif. Dalam perkembangannya LDK beralih peran sebagai lembaga syiar Islam. Berbagai agenda terus dilakukan. Terkadang alih fungsi ini berdampak “kebablasan” di beberapa wilayah. Roda syiar berjalan, sedangkan basis pembinaan tidak terperhatikan.
Inilah yang menjadi sebab mengapa beberapa LDK mengalami krisis kepemimpinan pada tahun-tahun tertentu. Sejatinya LDK harus bisa memastikan sistem kaderisasi bisa berjalan dengan baik dalam keadaan apapun. Karena kaderisasi yang baik akan berperan besar sebagai dinamo dakwah kita.

Mengapa saya berbicara sistem, karena dengan sistem lah, sebuah LDK bisa membentuk kader kader yang solid dan militan setiap saat. LDK tidak boleh berorientasi pribadi atau ketokohan. LDK tidak boleh punya tokoh sentral yang di ibaratkan “pahlawan” bagi LDK tersebut. LDK harus mampu membentuk banya kader hebat di setiap waktu.
Bagaimana LDK melakukan sistem kaderisasi ?. Pada dasarnya ada 4 tahap kaderisasi yakni, tahapan perkenalan, pembentukan, pengorganisasian, dan tahapan eksekusi. Empat tahapan ini adalah sebuah siklus yang membentuk seorang objek dakwah agar di masa yang akan datang siap menjadi subjek dakwah
Perkenalan ( ta’aruf )
Pandangan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Memberikan kesan yang baik terhadap LDK adalah tahap awal yang dijalankan. Kesan yang baik ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti dengan pelayanan kepada mahasiswa, atau dengan agenda syiar kampus. Pada tahap perkenalan ini , LDK mempunyai peran dalam untuk membuat mahasiswa menjadi mengetahui apa-apa yang belum diketahui terkait islam, atau dengan kata lain dari bodoh menjadi pintar. Dari yang belum mengetahui menjadi mengetahui. Membuat mahasiswa berkata “oh”. Pada hal-hal yang didapat. Pendekatan yang dilakukan memang seperti agenda syiar, karena ta’lim dan tabligh bisa menjadi media untuk memperkenalkan LDK.
Tahapan perkenalan sangat berpengaruh terhadap pemahaman dan kontribusi beliau ketika sudah masuk LDK, dalam tahapan ini kita perlu memberikan gambaran umum yang jelas sehingga calon kader memiliki orientasi yang jelas dalam mengikuti pembinaan Islam. Tidak ada parameter yang berlebihan dalam tahapan ini. Mahasiswa yang dulu belum mengetahui bahwa sholat itu wajib, menjadi tahu bahwa sholat itu wajib, mahasiswa yang belum tahu bahwa puasa itu wajib menjadi tahu. Belum perlu sampe tahapan melaksanakan. Dengan harapan, setelah mahasiswa mengetahui urgensi dari beberapa hal tentang Islam , membuat mereka tertarik untuk mendalami dengan mengikuti permentoringan.
Poin penting dalam tahapan ini adalah tindak lanjut dari agenda syiar yang dilakukan. Peran data sangat penting disini, dimana LDK bisa mempunyai absensi peserta ta’lim atau agenda syiar, dan menindaklanjuti dengan agenda pembinaan rutin ( mentoring ) yang diadakan oleh LDK. Bentuk lain dari penindaklanjutan adalah dengan membuat stand pendaftaran kegiatan mentoring di setiap event dakwah, dan cara yang baik lainnya, adalah dengan menjadikan dakwah fardiyah sebagai kebiasaan kader dimana. Sehingga setiap kader kita bisa berperan aktif dalam mengajak mahasiswa muslim untuk mengikuti mentoring ( pembinaan rutin ). Pendekatan dengan diskusi langsung juga bisa dilakukan untuk orang yang sudah berpengaruh atau sudah punya landasan pemikiran yang kuat.

Pembentukan ( takwin )
Membentuk seorang kader yang seimbang dari segi kemampuan dirinya. Membentuk kader ini perlu waktu yang cukup lama dan berkelanjutan. Membuat mekanisme dan sistem pembentukan yang jelas, bertahap dan terpadu bagi kader akan menghasilkan kader yang kompeten dan produktif. Oleh karena itu pelaku kaderisasi atau dalam hal ini tim kaderisasi LDK diharapkan bisa memberikan asupan ilmu yang luas dan tidak terbatas, serta seimbang antara ilmu dan amal. Berikut akan dijelaskan berbagai dimensi yang perlu dipahami dan dibina terhadap seorang kader.
Diniyah. Diniyah disini dimaksudkan pemahaman ajaran Islam dasar, seperti penjelasan tentang aqidah yang bersih dan lurus, pengajaran bagaimana ibadah yang benar,diutamakan ibadah wajib dijalankan dengan konsisten lalu meningkat ke membiasakan ibadah sunnah. Selanjutnya terkait dasar-dasar fiqih Islam dan berbagai hukum kontemporer yang ada. Penguatan dari sisi akhlak yang baik perlu di biasakan pada dimensi ini. Pembentukan kader yang berkepribadian Islam komprehensif diharapkan bisa di penuhi di dimensi ini.
Qur’aniyah. Memberikan pengajaran akan dasar-dasar Al Qur’an, disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan kader yang ada. Tahapan pengajaran ini bisa dimulai dari tahap pra-tahsin,tahsin, dan tahfidz. Bila keadaan memungkinkan Tafsir qur’an juga bisa dilaksanakan. Besar harapan kader LDK sangat dekat dengan Qur’an, karena memang semua yang disampaikan dalam berdakwah akan bersumber pada Al Qur’an. Kedekatan kader pada Qur’an pula yang akan membuat dakwah ini berkah dan di rahmati Allah. Kader diharapkan bisa mengaji atau membaca Qur’an dengan tajwid yang benar. Jika bacaan Qur’an sudah baik, kader diharapkan bisa memulai menghafal Al Qur’an.
Manajemen Organisasi. LDK adalah lembaga dinamis yang memerlukan kader yang bisa bergerak produktif dan terus menerus. Kader LDK haruslah kader yang baik dalam memanajemen diri dan organisasi. Penanaman dasar-dasar organisasi sejak dini dengan harapann kader tidak bingung ketika sedang menjalankan amal dakwah. Isi dari dimensi ini seperti dasar-dasar kaderisasi, manajemen waktu, manajemen konflik, manajemen rapat, syiar efektif, fung rising, pengelolaan organisasi dan lainnya. Isi dari dimensi diharapkan bisa menjadi bekal untuk diri sendiri dan organisasi dakwah.
Softskill. Kader LDK dituntut memiliki keahlian khusus yang bisa menunjang pergerakan dakwah LDK dan di masa yang akan datang diharapkan bisa juga berguna untuk dirinya. Contoh penerapan pembentukan softskill untuk kader, seperti pelatihan membawa mobil dan motor, cara desain dengan corel draw atau adobe photoshop,publik speaking, training manajemen aksi, memasak, memasang spanduk dan umbul-umbul, pelatihan multimedia seperti web dan blog, olahraga dan bela diri, bahasa Inggris dan bahasa arab dan kemampuan pendukung lainnya yang sekiranya dibutuhkan untuk kader.
Kepemimpinan. Manusia diciptakan Allah sebagai pemimpin, begitupula kader LDK yang nantinya akan memimpin pos-pos dakwah di manapun. Seorang kader dakwah harus siap memimpin jika kondisi menghendaki beliau sebagai pemimpin. Jiwa seorang pemimpin ini tidak bisa dibangun secara instan. Seorang pemimpin perlu kuat dari segi visi dan komprehensif dalam melihat sesuatu, pemimpin juga butuh kekuatan komunikasi dan kharisma yang kuat, pemimpin butuh memiliki jiwa empati dan baik dalam berkerja sama, pemimpin juga harus bijak dalam mengambil kebijakan. LDK harus bisa mencetak banyak pemimpin, karena kader LDK tidak hanya akan memimpin di LDK saja, akan tetapi kita juga perlu menyiapkan kader yang akan pemimpin di wilayah dakwah lain.
Wawasan. Seorang yang berilmu lebih baik ketimbang yang tidak berilmu. Ilmu dalam hal ini tidak dibatasi dalam hal ilmu agama saja. Kader LDK perlu memahami dasar-dasar ilmu politik, sosial, hukum, budaya dan ekonomi. Kekuatan dan luasnya wawasan yang dimiliki oleh kader dakwah akan memudahkan proses keberterimaan seorang kader di masyarakat dan memudahkan amal dakwah yang dilakukan oleh kader. Kekuatan wawasan ini pula yang akan membuat kader lebih bijak dan tepat dalam mengambil keputusan.
Dimensi-dimensi pembinaan ini perlu diberikan secara jelas, bertahap dan terpadu. Dengan memebrikan banyak wawasan bagi kader LDK, sama dengan membangun aset dalam bisnis. Aset terbesar LDK adalah kader yang produktif. Flow dari rangkaian pembinaan ini harus bisa disusun dengan tepat agar memberikan sebuah formulasi kaderisasi yang terbaik. Mekanisme pendukung dari tahapan ini adalah form evaluasi rutin per kader, sehingga kita bisa mengetahui tingkat partisipasi kader dalam pembinaan serta menguatkan basis penjagaan dalam kelompok kecil yang sering kita kenal dengan mentoring. Mentoring akan berfungsi sebagai kelompok penjagaan terkecil dari sebuah LDK. Pada tahapan pembentukan ini, ilmu yang sudah didapatkan diharapkan sudah bisa menjadi pemikiran dan gagasan yang kuat bagi kader dan siap untuk mengamalkannya.

Penataan / Pengorganisasian ( Tandzhim )
Setelah kader dibina, mulailah LDK menata potensi potensi kader menajdi sebuah untaian tali pergerakan yang harmoni. Setiap kader mempunyai kelebihan masing-masing. Ada kader yang pandai menghafal Qur’an, maka jadikanlah ia sebagai pengajar tahsin dan tahfidz. Ada kader yang gemar aksi atau demonstrasi, maka tempatkanlah ia di garda politik. Ada kader yang gemar mengadakan kegiatan, maka tempatkanlah ia di kepanitiaan. Ada kader yang hanya gemar belajar, maka proyeksikan ia agar menjadi asisten dosen dan ketua lab di masa yang akan datang. Ada kader yang suka bertualang, maka tempatkanlah ia sebagai relawan sosial LDK. Ada kader yang senang berpikir, maka tempatkanlah ia sebagi tim strategis. Ada kader yang gemar menggambar, maka tempatkanlah ia sebagai tim desain LDK. Kader harus ditempatkan sesuai dengan potensi yang dimiliki. Walaupun seorang pimpinan LDK punya wewenang untuk menempatkan kader sesuai dengan harapan pimpinan, akan tetapi menempatkan kader sesuai keinginan dan potensi akan menghasilkan sebuah kesinambungan dakwah yang harmoni dan tidak terjadi pembunuhan karakter kader. Pemahaman ini perlu di pahami, bahwa kader kita adalah manusia, bukan mesin yang bisa dipindah-pindah sesuai dengan keinginan pengguna. LDK harus mampu memanusiakan manusia. Kalo memang harus ada yang berkorban di LDK, maka pemimpin lah orang paling tepat. Kader adalah objek dakwah untuk pimpinan LDK.
Kader dengan amanah , seperti tumbuhan dengan habitatnya. Kaktus tidak mungkin hidup di pantai dan rumput laut tidak mungkin hidup di padang pasir. Begitulah analogi kader, jika pimpinan memaksakan seorang kader ditempatkan di tempat yang tidak sesuai, maka pembunuhan karakter akan terjadi. Penyediaan ladang beramal dari LDK pun harus ditambah seiring bertambahnya kader. Ada beberapa LDK yang menyesuaikan komposisi dan bentuk struktur organisasi dengan jumlah kader, atau bisa juga dengan memberikan kader tempat beramal di lembaga lain, sebutlah mahad kampus, BEM, himpunan, Unit mahasiswa dan sebagainya.
Poin paling penting adalah bagaimana kader dakwah bisa memiliki amanah di mana pun, dengan catatan, kader selalu melakukan setiap hal dengan paradigma dakwah yang baik. Dimanapun anda berada frame dakwah harus tetap terinternalisasi. Kenapa kebijakan seperti itu yang dikembangkan ?. Karena LDK harus mampu menyediakan kader yang bisa mengisi berbagai pos di masa yang akan datang. Dalam tahapan yang sudah lanjut, terutama untuk LDK yang sudah stabil. Kader diharapkan selalu memiliki empat peran dalam satu waktu, yakni ;

Mentor ( pembina ), seorang kader LDK harus aktif membina dan dibina. Dengan membina kelompok mentoring rutin, atau mengisi ta’lim rutin. Peran ini adalah peran murni seorang da’i yang diharapkan bisa menjadi peran utama kader dakwah
Penentu kebijakan strategis ( syura ), kader didik untuk bisa memimpin dan berpikir. Oleh karena itu kader harus mempunyai tanggung jawab sebagai anggota syura ( rapat strategis ) di lini yang sesuai dengan kapasitas kader saat itu. Dengan berpikir strategis ini diharapkan kader terbiasa untuk berpikir startegis dan komprehensif, sekaligus menumbuhkan jiwa pemimpin.
Pelaksana operasional ( teknis ), selain sebagai pemegang kebijakan di suatu tingkatan LDK, kader juga diharapkan bisa berperan dalam tatanan operasional atau kita sering kenal dengan pekerjaan teknis. Sehingga kader akan selalu berada dalam peran sebagai atasan dan bawahan dalam waktu bersamaan. Keseimbangan ini akan membentuk jiwa kerjasama yang baik. Contoh dalam kasus ini adalah, seorang kader berperan sebagai tim inti panitia kegiatan ( dalam hal ini dia sebagai anggota syura ) dan juga sebagai pelaksana operasional di tatanan LDK ( berkoordinasi dengan pengurus inti LDK ).
Akademik, kader dakwah pun perlu memiliki kompetensi akademik yang baik. Oleh karena itu, peran terakhir yang tak kalah pentingnya adalah, kader bisa berperan dalam bidang akademik atau di bangku kuliah dan lab. Peran yang bisa diambil antara lain, ketua kelas, ketua kelompok tugas, koordinator lab, ketua praktikum, asisten dosen, atau aktif dalam penelitian dan lomba ilmiah. Memiliki kader yang memiliki IP baik adalah harapan besar LDK. Dengan IP yang baik, sebetulnya akan memudahkan pergerakan dakwah kita di kampus.


Eksekusi dan peralihan objek kaderisasi menjadi subjek kaderisasi ( Tanfidzh )

Tahap terakhir dalam siklus kaderisasi. Pada tahapan ini seorang kader dakwah sudah bisa berkontribusi secara berkelanjutan dan sudah siap untuk menjadi subjek kaderisasi bagi objek dakwah yang lain. Kaderisasi merupakan siklus yang terus-menerus dan selalu lebih baik. Fase eksekusi ini juga di isi dengan monitoring kader dan evaluasi berkala, agar sistem kaderisasi yang dijalankan di LDK selalu lebih baik. Dengan monitoring dan evaluasi ini, diharapkan bisa memberikan masukan dan perbaikan bagi perencanaan siklus kaderisasi selanjutnya. Pada dasarnya tahapan kaderisasi seperti ini, varian dan inovasi akan bisa sangat berkembang pesat di metode, kurikulum, flow materi, perangkat pendukung dan kebijakan manajemen SDM lainnya.
Fase eksekusi ini juga sudah menghasilkan kader yang memiliki dorongan untuk berkerja, dan perlu di ingat, karena seorang kader saat ini sudah memegang peran sebagai pelaku atau subjek kaderisasi, maka kader pun perlu dibina dengan siklus yang baru. Pada dasarnya seorang kader akan dibina sesuai dengan siklus ini, yang membedakan adalah pola dan isi dari setiap tahapan. Seringkali, LDK tidak membina kader tahap lanjut, atau bisa dikatakan pembinaan untuk pengurus harian lebih sedikit ketimbang kader mula. Oleh karena itu pada LDK yang sudah cukup stabil, diharapkan mempunyai alur dan kurikulum serta metode kaderisasi yang berbeda untuk setiap tingkatang ( angkatan ) kader. Dengan membuat sistem kaderisasi seperti ini, maka LDK akan menjadi mesin pencetak kader yang solid dan militan secara terus-menerus. Membangun sistem kaderisasi yang kuat adalah aset berharga untuk lembaga dakwah kampus.

Rabu, 13 Februari 2008

Kerugian Berburuk Sangka (Su'uzh Zhan)


Kerugian Berburuk Sangka (Su'uzh Zhan)


Manakala kita melakukan atau memiliki sifat berburuk sangka, ada sejumlah kerugian yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.


1. Mendapat Nilai Dosa
Berburuk sangka jelas-jelas merupakan dosa, karena disamping kita tanpa dasar yang jelas sudah menganggap orang lain tidak baik, berusaha menyelidiki atau mencari-cari kejelekan orang lain. Juga akan membuat kita melakukan dan mengungkapkan segala sesuatu yang buruk tentang orang lain yang kita berburuk sangka kepadanya. Allah swt. berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa." [QS. Al-Hujurat (49): 12]


2. Dusta Yang Besar
Berburuk sangka akan membuat kita menjadi rugi, karena apa yang kita kemukakan merupakan suatu dusta yang sebesar-besarnya. Hal ini disabdakan oleh Rasulullah saw., "Jauhilah prasangka itu, sebab prasangka itu pembicaraan yang paling dusta." (HR. Muttafaqun alaihi)


3. Menimbulkan Sifat Buruk
Berburuk sangka kepada orang lain tidak hanya berakibat pada penilaian dosa dan dusta yang besar, tapi juga akan mengakibatkan munculnya sifat-sifat buruk lainnya yang sangat berbahaya, baik dalam perkembangan pribadi maupun hubungannya dengan orang lain. Sifat-sifat itu antara lain ghibah, kebencian, hasad, menjauhi hubungan dengan orang lain, dan lain-lain.
Dalam satu hadits, Rasulullah saw. bersabda, "Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seseorang benar dan selalu memilih kebenaran, dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta, sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seseorang dusta dan selalu memilih dusta, dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (HR. Bukhari)



Larangan Berburuk Sangka
Karena berburuk sangka merupakan sesuatu yang sangat tercela dan mengakibatkan kerugian, maka perbuatan ini sangat dilarang di dalam Islam sebagaimana yang sudah disebutkan pada surat Al Hujurat ayat 12. Untuk menjauhi perasaan berburuk sangka, maka masing-masing kita harus menyadari betapa hal ini sangat tidak baik dan tidak benar dalam hubungan persaudaraan, apalagi dengan sesama muslim. Disamping itu, bila ada benih-benih perasaan berburuk sangka di dalam hati, maka hal itu harus segera diberantas dan dijauhi karena itu berasal dari godaan setan yang bermaksud buruk kepada kita. Dan yang penting lagi adalah memperkokoh terus jalinan persaudaraan antar sesama muslim agar yang selalu kita kembangkan adalah berbaik sangka, bukan malah berburuk sangka.


Oleh karena itu, Khalifah Umar bin Khattab r.a. menyatakan, "Janganlah kamu menyangka dengan satu kata pun yang keluar dari seorang saudaramu yang mukmin kecuali dengan kebaikan yang engkau dapatkan bahwa kata-kata itu mengandung kebaikan."


Demikian hal-hal pokok yang harus mendapat perhatian kita dalam kaitan dengan sikap husnuzhzhan (berbaik sangka).

husnuzan dalam amal jama'i

Ada 4 macam husnuzhan di dalam beramal jama'i


1. Husnuzhan kepada Allah.


Apabila Allah ternyata menaqdirkan ditangguhkannya kemenangan kita, maka hal yang bisa kita jadikan alasan untuk berhusnuzhan kepada Allah adalah (berdasarkan sirah rasulullah SAW):
Bisa jadi Allah ingin memberikan pelajaran kepada kita, bahwa kemenangan itu hanyalah semata-mata milik Allah, sehingga kita harus menyerahkan masalah hasil kepada Allah. manusia hanya berkewajiban berikhtiar
Bisa jadi ada elemen2 yang mempunyai niatan2 yang tidak lurus dalam berjuang, sehingga Allah ingin membersihkan jalan da'wah ini dan menguji siapa yang benar2 ikhlas dalam berjuang
Bisa jadi masih ada sisa-sisa potensi kebaikan di pihak musuh, yang mungkin dapat mendukung kita di masa yang akan datang
Bisa jadi model pertempuran yang terjadi belum benar2 merupakan pertempuran antara yang haq dan bathil
Bisa jadi belum ada bi'ah yang kondusif untuk menegakkan yang Haq jika kita diberikan kemenangan pada saat ini


2. Husnuzhan kepada Jama'ah


senantiasa menyikapi segala keputusan amal jama'i dengan fikrul ilmiyah guna memperkuat keyainan kita, dan tidak terus - terusan bersandar kepada berpikir konspiratif


3. Husnuzhan kepada sesama saudara


Mengubah sesuatu yang negatif menjadi lebih positif dari sudut pandang kita
Bbersedih jika diri kita menjadi sumber informasi tentang keburukan ikhwah yang lain


4. Husnuzhan kepada sesama mu'min


Tidak menganggap bahwa seorang yang 'ammah (belum tertarbiyah) tidak lebih baik dari pada kita. Karena sangat mungkin mereka lebih sholih dan lebih mulia posisinya dihadapan Allah jika dibandingkan dengan kita

Senin, 11 Februari 2008

Sejarah Dakwah Kampus ITB



Sejarah Dakwah Kampus ITB tidak bisa terlepas dari Sejarah Pendirian Masjid Salman ITB. Banyak yang telah di alami dan dikerjekan semasa pendirian Masjid Salman ITB. Berikut ini beberapa peristiwa yang masih dapat dilacak, baik dari dokumen-dokumen maupun tuturan para aktifis, dari awal hingga tahun 1972.

19 April 1960
Panitia Masjid ITB dibentuk. Diketuai oleh Hasan Babsel Soetanegara

27 Mei 1960
Shalat Jum’at Pertama di Aula Barat ITB. Bahkan ini mungkin shalat Jum’at pertama di Indonesia yang di lakukan di lingkungan kampus. Khatib : Mohammad Hamron

19 Agustus 1960
Panitia mengirim surat kepada Presiden ITB Prof.R.O. Kosasih yang isinya permohonan mendirikan masjid di Jl. Ganesha yang sedianya digunakan untuk kantor Lembaga Afiliasi dan Penilitan Industri (LAPI) ITB. Permohonan tidak dikabulkan.

Tahun 1961
Shalat Idul Fitri dan Idul Adha yang pertama di kampus ITB. Disembelih 11 ekor kambing kurban pada Idul Adha itu.

13 Oktober 1962
Dimulainya perkuliahan agama di ITB. Dibuka oleh Prof.T.M.Soelaiman.

28 Maret 1963
Dengan persetujuan Presiden iTB Jajasan Pembina Masjid (JPM) ITB disahkan oleh akta notaris Komar Andasasmita nomor 83. Ketua yayasan Prof.T.M. Soelaiman. Modal awal Rp.10.000,-

23 April 1964
Menteri/Panglima AL Laksamana Madya Laut R.E.Martadinata dan Menteri Veteran Brigjen Sarbini Shalat Idul Adha bersama Mahasiswa di kampus ITB

25 Mei 1964
Walikota Bandung, Priatna Kusumah, bersedia menjadi penasihat JPM ITB

Kamis, 28 Mei 1964 jam 07.30
Delegasi JPM ITB yang dipimpin Prof.T.M.Soelaiman dan disertai daiantaranya, Ahmad Sadali dan Ahmad Nu’man, bertemu Bung Karno di Istana. Bung Karno menandatangani rancangan gambar Masjid yang dibuat Ahmad Nu’man dan memberi nama Salman, seorang teknikus di zama Nabi Muhammad SAW.

Jum’at, 29 Mei 1964
Nama Salman di umumkan kepada Jamaah Shalat Jum’at


30 Mei 1964
Bung Karno mengirim surat dengan kop kepresidenan yang menyatakan bersedia menjadi pelindung dan memberi nama Salman

5 Juni 1964
Rektor ITB Prof.Ukar Bratakusuma mengirim surat pada Walikota Bandung tentang ijin pemaikaian tanah di Jl.Ganesha untuk Masjid Salman

Akhir Tahun 1964
Mushallah Salman yang dibangun Dewan Mahasiswa ITB selesai

27 Januari 1965
Keputusan Rektor ITB Prof.Ukar Bratakusuma bahwa JPM ITB satu-satunya yang berwenang dan bertanggungjawab terhadap pengumpulan dana pembangunan masjid ITB.

Selasa sore, 22 Juni 1965
Peresmian menara sekaligus peresmian Pramuka Salman. Ceramah disampaikan oleh Prof.Soelaiman dengan tema Al Ashr.

4 Oktober 1965
Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) ITB dibentuk di Mushalla Salman

2 Maret 1968
Pengesahan Anggaran Dasar baru di depan notaris komar Andasasmita

1 Mei 1968
JPM ITB di ijinkan untuk mendirikan poliklinik di Lingkungan Salman. Namanya Balai Pengobatan SALMAN ITB.

Tahun 1968
Bangunan yang sudah berdiri adalah Mushalla Salman, kantor sekretariat, poliklinik dan kantin.

30 Juli 1970
Memperoleh anggaran proyek untuk menyelesaikan atap beton senilai 20 juta rupiah

9 Juli 1971
Ketua Umum Yayasan Pembina mAsjid Salman ITB diserahterimakan dari Prof.T.M. Soelaiman kepada Drs. Ahmad Sadali

5 Mei 1972
Untuk pertama kalinya Masjid Salman ITB dipakai untuk Shalat Jum’at. Sebelumnya dibuka oleh Rektor ITB. Prof.Dr. Doddy Tisna Amidjaja. Khatib: Prof.T.M. Soelaiman. Imam : Abdul Latif Aziz dan Muazzin : Endang Saifuddin Anshari.

Pendirian Masjid Salman sangat berpengaruh terhadap perkembangan dakwah di kampus ITB. Karena Masjid yang menjadi sentral bagi Islam sudah ada. Sehingga kegiatan-kegiatan ke-Islaman di Kampus ITB berkembang. Tidak hanya itu, adanya Masjid Salman ini juga mempengaruhi pergerakan dakwah kampus di Indonesia.

Rabu, 06 Februari 2008

Internalisasi Dakwah Fardiyah

Protokol #02
Internalisasi Dakwah Fardiyah

Kembali kepada asholah da’i
Perjalanan dakwah di Keluarga Mahasiswa Islam ITB yang telah mencapai usia dua dekade semakin kehilangan khitah da’i yang seharusnya di cita-citakan sejak awal. Karakter seorang da’i yang seharusnya melekat pada jiwa kader atau aktifis dakwah semakin memudar ditelan arus perubahan massa atau objek massa. Perubahan ini terlalu drastis dan cepat, sehingga tuntutan untuk berubah pun menjadi sebuah keharusan. Akan tetapi ada hal yang disayangkan bahwa perubahan ini tidak di ikuti dengan mempertahankan hal-hal yang bersifat fundamental dari fungsi da’i itu sendiri. Dakwah dalam kata kerja dan Da’i yang merupakan bentuk dari pelaku dakwah memilki makna harfiah menyampaikan. Pada hakikatnya kita sangat memahami bahwa menyampaikan adalah sesuatu yang berasal dari diri ini dan disampaikan melalui lisan maupun tindakan.
Berdasar pemahaman diatas, fungsi utama seorang kader dakwah adalah menjadi da’i , dimana dia mengajak seorang mad’u atau objek dakwah untuk kenal Islam lebih mendalam. Seorang aktifis dakwah yang dengan lisannya menyampaikan risalah Islam dan mengajak objek dakwahnya untuk belajar Islam. Hal inilah yang juga dicontohkan oleh Rasulullah, dimana beliau menyampaikan firman Allah di depan umum, diatas bukit atau berkunjung langsung ke tempat-tempat tertentu dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai da’i.
Begitupula kita sebagai seorang kader dakwah, ternyata dituntut tidak hanya pandai menyusun sebuah agenda dakwah, tidak hanya cepat dalam menghafal Al Qur’an, atau tidak hanya baik dalam hal manajemen sebuah organisasi. Akan tetapi seorang kader dakwah juga dituntut bisa menjadi da’i dimanapun dia berada, dengan berkata, mempengaruhi sekitar dengan perkataan dan keteladanan agar objek dakwahnya bersedia belajar Islam lebih mendalam.
Dakwah Fardiyah
Perjalanan dakwah Islam yang sudah memasuki abad ke 15 ada sebuah metode dakwah yang tidak pernah usang. Sebuah metode dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, sebuah metode dakwah yang juga dilakukan oleh Para Khulafaur Rasyidin, dan bahkan metode dakwah yang dilakukan Adam AS, Ibrahim AS, Musa AS hingga Isa AS. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi beliau. Dakwah fardiyah atau dakwah secara personal. Bentuk dakwah personal ini memang sesuai dengan namanya, yakni aktifitas dakwah secara personal dari seorang personal, man to man, woman to woman.
Dakwah fardiyah dalam konteks ke-lembaga dakwah kampus-an, mengkrucut pada sebuah tujuan, yakni mengajak objek dakwah agar ikut atau bergabung dalam pembinaan yang dilakukan oleh Lembaga Dakwah Kampus. Karena pada hakikatnya , berbeda dengan zaman Rasul, dimana yang di dakwah-i oleh Rasul adalah seorang non-muslim atau seorang yang masih kafir. Pada medan dakwah kampus, yang kita dakwah-i adalah seorang muslim yang akan kita ajak untuk mempelajari Islam secara mendalam. Dengan berbagai metode pembinaan yang ada, bisa kita gunakan sebagai wadah untuk mem-follow up hasil pendekatan personal kita. Biasanya wadah yang paling cocok untuk mem-follow up adalah kelompok mentoring. Metode lainnya seperti ta’lim dan mabit juga bisa digunakan follow up masif.
Dalam dakwah fardiyah ini ada beberapa tahap yang bisa kita rangkup dalam istilah 5M.
Mengenali
Fase pertama dalam dakwah fardiyah adalah mengenali calon mad’u. Mengenal tidak hanya sebatas nama dan nomor handphone , akan tetapi betul-betul mengenal secara mendalam. Dimulai dari kita mengetahui kebiasaanya, dimana tempat tinggalnya, lalu apa aktifitas kesehariannya, kesukaan dan ketidaksukaanya, dan lain sebagainya. Mengenali mad’u ini sangat penting, karena akan mempengaruhi metode pendekatan yang akan dilakukan. Dalam buku personality plus, ada 4 tipikal manusia, yakni, sanguinis, melankolis, korelis, dan plegmatis. Buku ini bisa menjadi sebuah pedoman sederhana dalam mendekati mad’u. Selain itu buku bagaimana menyentuh hati karangan abbas assyisi bisa digunakan sebagai pedoman fundamental dalam melakukan pendekatan personal.
Mendekati
Pendekatan yang dilakukan terhadap objek dakwah juga harus berbeda, ada kalanya kita juga harus menyesuaikan dengan bagaimana kedekatan atau seberapa kenal kita dengan mad’u. Pada dasarnya kita tidak perlu mengubah cara kita berkomunikasi atau bersikap kepada beliau. Karena perubahan yang terjadi justru bisa kontraproduktif terhadap dakwah yang kita lakukan. Jadilah diri anda, dan tentukan pola pendekatan yang paling tepat dengan tipikal diri anda.
Seorang mad’u selalu memiliki kekhasan tersendiri. Seorang yang gemar membaca bisa didekati dengan membelikan atau meminjami beliau dengan buku yang menurut kita bisa mengubah paradigma beliau tentang Islam. Sebutlah sirah nabawiyah , atau al islam karangan Sayyid Qutb, atau mungkin buku umum seperti the secret, the world is flat, atau berpikir dan berjiwa besar. Dengan pendekatan buku seseorang bisa tergugah pemikirannya. Kadang kala kita bisa bertemu dengan seorang yang gemar bertanya, bisa saja sesekali kita ajak beliau untuk silahturahim ke tempat seorang ustadz untuk diskusi agama, atau menghadiri ta’lim dengan tema pentingnya pembinaan dan lain sebagainya. Seseorang yang keras kepala harus bisa dipatahkan dan di cairkan dengan pemahaman dan penjelasan yang logis dan realis dari kita. Oleh karena itu, pemahaman Islam yang baik juga menjadi tuntutan seorang da’i. Lain halnya dengan tipikal mad’u yang melankolis-plegmatis, dimana pendekatan intrapersonal, rasa empatik, dan perhatian dari kita bisa menjadi metode yang tepat. Berbagai metode lain bisa berkembang tergantung mad’u dan diri kita sendiri.
Tujuan dari tahapan pendekatan ini yakni membentuk kepercayaan antara diri kita dan mad’u , mengikatkan dan mendekatkan hati, dan menumbuhkan perasaan ingin memperlajari Islam secara mendalam dan konsisten, atau dengan bahasa lain, menimbulkan keinginan untuk mengubah diri sendiri.
Mengajak
Setelah mendapatkan kepercayaan dan kedekatan, tugas kita adalah mengajak mad’u kita untuk mengikuti pembinaan Islam secara konsisten. Bagaimana cara dan waktu yang tepat, tergantung situasional yang ada. Bisa jadi perlu ada diskusi panjang hingga beliau bersedia ikut pembinaan, atau ada yang tipikal langsung di “tembak” langsung, ini tipikal pada mad’u yang sudah dekat secara personal kepada kita, atau untuk mad’u yang agak sulit mengambil keputusan, bisa langsung di undang di agenda pembinaan yang ada. Proses pengajakan ini bukanlah akhir dari proses meskipun mad’u menolak untuk mengikuti pembinaan. Proses fardiyah harus tetap jalan. Jika kita sudah merasa tidak ada prospektif di salah seorang mad’u, maka mengganti calon mad’u bisa menjadi pilihan yang tepat.
Mendo’akan
Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah . Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu'min, dan Yang mempersatukan hati mereka . Walaupun kamu membelanjakan semua yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.
[ al anfaal 62-63 ]
Kekuatan do’alah yang bisa menyatukan hati-hati ini, karena sesungguhnya do’a kita kepada sesama muslim akan menjadi amal yang yang sangat bernilai, kekuatan do’a ini pula yang akan membukakan hati kita semua, memudahkan masuknya hidayah, dan menjauhi godaan syetan. Mendo’akan mad’u menjadi kewajiban bagi seorang da’i.

Menjaga

Terkadang proses follow up dari hasil fardiyah yang dilakukan tidak selalu di-handle oleh kita sendiri. Bisa jadi orang lain yang membina hasil fardiyah kita lakukan. Oleh karena itu kita perlu tetap menjaga hubungan and never loose contact with him/her. Sesekali kita coba tanya bagaimana pembinaan yang beliau dapat, apa kesannya, atau bisa di ajak diskusi sesekali. Beda halnya jika kita yang membina langsung hasil fardiyah yang kita lakukan, proses penjagaan akan lebih mudah karena kita akan bertemu lebih rutin.

Prospek

Melihat perkembangan dakwah syiar event yang semakin semarak dan berdana besar, dakwah fardiyah bisa menjadi media persiapan massa sebelum event atau media follow up setelah event.

Media persiapan sebelum event, dakwah fardiyah bisa sebagai metode yang digunakan untuk mengajak peserta. Dalam tahapan dakwah fardiyah, pengajakan mad’u ke agenda dakwah bisa mempercepat tahapan pendekatan, karena mad’u akan bisa merasakan nuansa Islam di dalam agenda yang diadakan. Dengan mengajak mad’u kita ke agenda dakwah, turut mendukung agenda tersebut dari sisi jumlah peserta.
Media follow up setelah event, pada setiap event yang dilakukan oleh lembaga dakwah kampus , sebaiknya ada presensi atau buku tamu dari pengunjung atau peserta event. Pendataan ini sangat penting, karena dengan data ini kita bisa menghitung berapa massa simpatisan kita yang berpotensi menjadi kader. Sehingga proses follow up akan lebih mudah. Salah satu metode follow up yang bisa digunakan, yakni dengan dakwah fardiyah. Seorang kader kita yang dekat dengan peserta agenda dakwah bisa mendekati beliau, sehingga proses follow up simpatisan menjadi kader kian cepat.

Perkembangan agenda dakwah berbasis event seakan-akan menjadi keharusan pada sebuah lembaga dakwah kampus. Betul memang, ketikan lembaga sudah formal, agenda yang masif harus dijalankan, karena massa juga semakin banyak. Akan tetapi, janganlah hal ini menjadi satu-satunya tipikal agenda merangkul massa. Jika ini terjadi, maka label LDK identik dengan event organizer menjadi layak kita sandangkan. Sungguh sangat zalim bagi kita para pemimpin lembaga dakwah kampus, jika mendidik kader hanya untuk menjadi ahli dalam organisasi, sebuah lembaga dakwah kampus adalah lembaga kaderisasi, maka mendidik kader untuk menjadi da’i dalam konteks mengajak objek dakwah ikut pembinaan dan membina dengan seksama agar objek dakwah bisa menjadi seorang yang memiliki kepribadian Islam. Sehingga, dengan internalisasi dan menjadikan dakwah fardiyah sebagai kebiasaan diantara kader, kita akan menstimulus karakter kader kita untuk memilki kepribadian da’i.

Prospek cerah sangat tampak dalam proyek ini karena ada efek kali yang sangat baik jika proyek ini bisa dijalankan secara konsisten untuk jangka waktu yang lama. Meng-gerilya kan kader kita untuk terus menerus “menjual” dan mempromosikan produk pembinaan kita setiap saat. Kita akan coba hitung bagaimana potensi penambahan kader yang mungkin bisa terjadi dalam perkembangan proyek ini.

Bulan
Jumlah kader
Pertama
50
Kedua
100
Ketiga
200
Keempat
400
Kelima
800
Keenam ( 1 semester )
1600

Dilihat dari tabel diatas hanya dalam 1 semester peningkatan kader kita akan meningkat hingga 32x lipat. Ini jumlah yang sangat fantastis. Angka 50 Kader di awal ini hanya merupakan asumsi, jika jumlah kader real yang ada pada kampus kita lebih banyak. Maka, multiply effect yang terjadi bisa lebih besar, dan perlu dicermati bahwa contoh diatas menggunakan asumsi, setiap kader hanya perlu mengajak 1 objek dakwah dalam waktu satu bulan. Hanya satu orang setiap bulan, bukan jumlah yang besar untuk waktu satu bulan.

Cara kerja dari habiting dakwah fardiyah pada dasarnya akan berbasis sistem yang sederhana. Karena hanya didukung oleh perangkat promosi dan wadah untuk menampung. Terkait pada perangkat pendukung akan di bahas pada bagian selanjutnya. Di akhir bagian prospek ini ada sebuah cara kerja sederhana yang akan kita gunakan dengan memanfaatkan pola pikir dasar seorang manusia.

Lintasan pikiran à memori à gagasan ( pola pikir ) à tekad à amal à tingkah laku à karakteristik

Manusia selalu memulai sesuatu dari sugesti, dan sugesti ini bermula dari sebuah lintasan informasi yang melewati pikirannya. Dalam konteks proyek ini, seorang da’i akan mencoba mengisi lintasan pikiran objek dakwah dengan pentingnya pembinaan, saatnya berubah kearah lebih baik, dan sebagainya. Dengan cara mengingatkan objek dakwah, melalui sms atau telepon atau saat bertemu. Cara lain adalah dengan banyaknya simbol atau pengumuman reklame dan iklan di kampus, agar objek dakwah senantiasa melihat dan menjadikan informasi yang ada sebagai sugesti. Selanjutnya kita akan menstimulus lintasan pikiran ini dengan diskusi, meminjamkan buku , atau mengajak ke pertemuan kader dan ta’lim agar timbul sebuah memori pada objek dakwah. Selanjutnya adalah proses kontemplasi pribadi objek dakwah untuk menyalurkan memori ini menjadi sebuah gagasan atau pola pikir bahwa “saya harus mengikuti pembinaan Islam untuk berubah!”, di saat tekad dari objek dakwah sudah timbul, maka tiba saatnya lah kita mengajaknya untuk bergabung.

Pada proses perkenalan dan pengajakan ini, kita harus bisa menjelaskan apa keuntungannya, apa perubahan yang terjadi pada diri setelah ikut pembinaan, kesempatan apa yang bisa didapat dan segala hal positif lainnya. Mengubah paradigma yang ada pada mad’u, karena sesungguhnya bukan karena alasan tidak mau ,sehingga mereka tidak mau bergabung sebelumnya, akan tetapi karena mereka belum mengetahui apa yang bisa mereka raih dengan mengikuti pembinaan ini.

Perangkat pendukung

Mekanisme kerja dakwah fardiyah pada sebuah LDK berpusat pada dua departemen atau bidang, yakni bidang kaderisasi dan manajemen sumber daya anggota serta bidang koordinasi mentoring. Dua bidang ini harus sinergis satu sama lain.
Kaderisasi dan Manajemen Sumber Daya Anggota
Bidang ini akan berfungsi pada satu hal, yakni penjagaan dan pemantauan proses dakwah fardiyah dengan membuat sel-sel atau kelompok yang bertujuan untuk mengecek keberjalanan yang ada. Sel-sel ini tidak ubahnya seperti usrah atau kelompok mentoring, bedanya kelompok ini tidak di isi dengan majelis ilmu, akan tetapi di isi oleh pengecekkan keberjalanan dakwah fardiyah. Kelompok ini juga di pimpin oleh seorang naqib yang berasal dari seorang yang lebih tua dan diusahakan satu program studi atau fakultas, agar transfer ilmu dalam cara dakwah fardiyah bisa lebih tepat. Pada pucuk tertinggi dari cabang pohon ini adalah para kader inti dari sebuah LDK. Pada kondisi lain, bisa saja fungsi pemantauan ini digabung dengan kelompok mentoring pembinaan atau usrah yang ada. Sebetulnya ini lebih efektif sehingga ketika ada objek dakwah baru yang bergabung akan lebih mudah memantau dan mem-follow up.
Tim Koordinasi Mentoring
Tim ini menyiapkan dua hal,yakni peralatan pendukung dan tabulasi jadwal mentoring.
1. Peralatan pendukung, peralatan ini adalah sarana yang digunakan oleh kader kita dalam mempromosikan mentoring. Sarana ini bisa berupa pamflet yang berisikan tentang segala sesuatu tentang pembinaan dan mentoring, slide powerpoint yang bisa digunakan di laptop untuk “menjual” mentoring. Sarana publikasi seperti poster atau leaflet yang bisa ditempel dan dibagikan, ini berguna dalam mencitrakan mentoring di lintasa pikiran objek dakwah. Merchandise pendukung , seperti kaos untuk mentor kita dengan bertuliskan ”bukan mentor biasa” atau ”supermentor”, pin yang dibagikan ke semua kader dengan betuliskan kata-kata persuasif. Selain itu tim mentoring sedianya membuka stand pendaftaran mentoring di setiap event yang diadakan oleh Lembaga dakwah kampus. Sehingga kita bisa membuka dan menampung seluruh mahasiswa muslim setiap saat.
2. Tabulasi jadwal mentor, kita akan memakai sistem buka kelas pada permentoringan. Setiap mentor diminta menyediakan waktu setiap pekannya 1 sesi , dengan satu sesi selama 1,5 jam. Lalu jadwal semua mentor akan di gabung dan akan mengeluarkan tabulasi jadwal kelas mentoring. Semakin banyak mentor yang ada, akan membuat pilihan dari objek dakwah kian banyak.
Ini merupakan contoh tabulasi sederhana yang bisa dibuat, dengan pilihan jadwal ini ada banyak keuntungan bagi proses dakwah fardiyah yang dilakukan, yakni.
i. Membuat jadwal antara mentor dan binaannya sesuai, sehingga tidak perlu memakan waktu untuk menyamakan jadwal
ii. Memberi kesempatan objek dakwah untuk memilih mentor untuk membina dirinya
iii. Memberi kesempatan seorang objek dakwah untuk memilih teman satu kelompoknya

Mekanisme input data ini bisa mudah dengan teknologi sms, seorang objek dakwah cukup sms ke service centre dengan mencantumkan identitas diri dan waktu mentoring yang diinginkan. Data yang dikirim via sms akan diteruskan ke sistem data mentoring dan ke mentor, sehingga maksimal satu pekan setelah seseorang mendaftar, beliau bisa langsung memulai proses pembinaan.

Mulai dari sekarang !

Untuk memulai sesuatu memang butuh waktu , akan tetapi semakin cepat kita memulai akan lebih baik. Karena semakin lama kita menunda akan semakin banyak pula pertimbangan yang mungkin bisa membuat kita tidak menjalankan sesuatu. Hal yang menjadi langkah awla dan bisa jadi cukup berat, adalah menimbulkan kesadaran atau habit dari kader dakwah kita agar senantiasa mengajak sebanyak-banyaknya mahasiswa di kampus untuk mengikuti pembinaan. Adanya pertemuan kader terpusat bisa menjadi sebuah metode yang diharapkan bisa memberikan pemahaman dan semangat secara masif agar kader bisa bergerak dan menjalankan dakwah fardiyah. Mungkin anda bertanya apakah saya sebagai penulis sudah pernah menjalankannya. Semester silam saya mencoba mempraktekkan secara mini konsep ini. Saya coba praktekkan konsep ini pada kelompok binaan saya di jurusan. Pada awalnya di bulan september, anggota kelompok hanya 8 orang saja. Akan tetapi setiap sms saya ke binaan untuk mengingatkan jadwal mentoring selalu saya beri tambahan “ajak yang lain yah ! ^_^” , dan pada setiap mengisi ta’lim di jurusan saya selalu mengajak untuk ikut mentoring. Alhasil dengan usaha saya dan binaan saya, pada awal bulan desember ( sekitar 3 bulan setelah pertemuan pertama ), jumlah anggota mentoring ini berjumlah 20 orang.

Kita akan membangun sistem disini, dimana ada perangkat pendukung, tools untuk promosi, media pencitraan lintasan pikiran, pertemuan-pertemuan untuk sharing dan berbagi ilmu, sel-sel kecil untuk penjagaan dan pengecekkan, serta wadah mentoring yang siap menampung hasil dakwah fardiyah. Dengan pembangunan sistem, semua kader kita dengan segala tipikal pribadi dan varian kompetensi akan bisa menjalankan amanah ini dengan baik


Tulisan ini ditujukan untuk semua aktifis lembaga dakwah kampus di seluruh Indonesia
Secara khusus saudaraku di makassar yang tengah berjuang melegalkan LDK
Semoga Allah memudahkan semua usaha kita

Tentang penulis :
Ridwansyah yusuf achmad
Kepala LDK keluarga mahasiswa Islam ( GAMAIS ) ITB 2007-2008
yusuf_ahdian@yahoo.co.id
ridwansyahyusuf@gamais.itb.ac.id
http://ridwansyahyusuf.blogspot.com
tulisan ini boleh disebarluaskan ( right to copy ) dengan mencantumkan identitas penulis

Minggu, 03 Februari 2008

tahapan pengembangan Lembaga Dakwah Kampus (LDK)

Tahapan Pengembangan Lembaga Dakwah Kampus ( LDK )

Tahapan dakwah bisa di ibaratkan sebuah anak tangga menuju sebuah hasil. Berpegang pada tahapan ini membuat segala yang kita lakukan menjadi terarah. Tahapan ini tidak dibatasi oleh waktu, akan tetapi tahapan ini merupakan tahapan dimana ada kriteria yang harus dipenuhi sebelum memasuki tahapan selanjutnya. Sehingga bisa saja dalam salah satu tahapan setiap LDK menghabiskan waktu yang berbeda. Apa saja tahapan dakwah yang ada ? dalam tulisan ini saya akan mencoba memaparkan 4 tahap yang bisa dilalui.

Tahap Pertama : membangun basis kader inti
Dalam risalah dakwah yang Rasul ajarkan, sebagaimana kita ketahui ada golongan yang pertama masuk Islam atau kita kenal dengan Ashabiqunal Awwalun. Golongan pertama ini dibina dengan intens oleh Rasul dalam rangka menguatkan fondasi terdalam dan paling bawah dari bangunan Islam. Bisa kita cermati sirah nabawiyah, Rasul mendidik Sahabat ini selama 10 tahun, atau hampir setengah dari masa kenabian beliau, yakni 23 tahun. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul. LDK pun akan melakukan hal yang sama, dengan tentunya waktu yang harus lebih cepat, karena kondisi dakwah kampus yang relatif singkat.
Kaderisasi yang dilakukan pada kader inti ini bersifat khusus dan terbatas, sehingga betul-betul segala yang dibutuhkan untuk dakwah kedepannya diharapkan bisa dimiliki oleh kader inti ini. Hal –hal apakah yang harus dimilki ? dalam hal ini ada 3 kebutuhan utama yang perlu dimiliki.
1. Kepribadian seorang Muslim
kepribadian ini meliputi karakter-karakter yang diperlukan seseorang dalam kehidupannya agar ia bisa menjalankan Islam dan mengajarkannya. Seorang kader inti harus memiliki aqidah yang bersih, ibadah yang benar, akhlak yang baik, tubuh yang sehat, kemampuan menghasilkan atau kuat secara ekonomi, pikiran yang intelek, bersungguh-sungguh dan tekun dalam segala hal, memiliki manajemen diri yang baik, disiplin akan waktu serta mempunyai paradigma untuk selalu bermanfaat bagi orang lain. Dengan adanya kepribadian ini diharapkan seorang kader inti bisa menjadi teladan, bisa menjadi guru dan diterima di kalangan masyarakat luas.
2. Kredibilitas dan Moralitas Pemimpin
Islam mendidik para umatnya untuk menjadi pemimpin bagi dirinya dan kalangannya. Dalam hal ini seorang kader inti, diharapkan bisa menjadi pemimpin dimanapun dia berada dalam rangka mengubah kondisi umat yang dipimpinnya menjadi lebih baik. Bukan untuk kekuasaan semata. Akan tetapi paradigma dakwah dan paradigma memberikan cahaya Islam di muka bumi harus terinternalisasi dengan baik di hati kader inti. Menjadi pemimpin adalah sebuah keniscayaan bagi seorang muslim. Sehingga dalam tahap ini seorang kader inti harus dididik bagaimana menjadi pemimimpin yang kuat dan bertanggung jawab. Seorang pemimpin yang bisa mengayomi seluruh umatnya, seorang pemimpin yang bisa menjadi ulama dan umara dalam waktu bersamaan.
3. Kemampuan khusus lainnya
Setiap manusia dilahirkan dengan potensi , minat , dan bakat yang berbeda. Ada seorang yang ahli dalam hal seni, ada seorang yang mahir berdagang atau saat ini kita kenal dengan entrepreneur, atau ada yang ahli dalam olahraga, dan sebagainya. Kemampuan khusus ini haruslah dikembangkan dengan bijak dan tepat, karena potensi seseorang jika dikembangkan akan jauh lebih cepat dan pesat perkembangannya. Seorang kader inti sebagaimana Rasul juga mendidik sahabatnya , juga memiliki kekhasan tersendiri. Sebutlah Ali bin Abi Thalib yang cerdas dan gemar menuntut ilmu, Umar bin Khattab yang ahli bermain pedang, Mushaf bin Umair yang menjadi pedagang sukses, dan sahabat lainya, yang memiliki potensi besar dan digunakan dengan baik dalam pemanfaatannya untuk kebutuhan dakwah. Seorang kader inti yang ahli dalam seni, bisa jadi dikembangkan dan bisa menjadi kekuatan dalam mengemas dakwah yang lebih komunikatif, seorang yang gemar berolahraga dikembangkan potensinya dalam rangka untuk sebagai duta dakwah diantara para masyarakat yang gemar berolahraga, seorang yang gemar berbisnis, didukung aktifitas bisnisnya agar mampu mendorong perkembangan dakwah dengan kekuatan yang dimiliki.
Pendidikan kader inti ini menjadi tahapan pertama dan menjadi fondasi yang akan menopang agenda dakwah kedepannya. Sehingga perlu dicermati dan ditelaah juga berapa banyak kader inti yang akan ada dan dibina.Pembinaan ini juga harus komprehensif dengan waktu yang tepat. Dengan harapan bisa menjadi core dalam membangun basis massa simpatisan.

Tahap Kedua : membangun basis massa
Setelah terbentuk kader inti , dakwah akan masuk di tahapan selanjutnya, yaitu membangun basis massa. Seringkali kita kenal istilah simpatisan, kurang lebih seperti itu yang akan kita bangun, akan tetapi tidak sekedar massa yang hanya mengatakan mendukung, akan tetapi massa yang senantiasa mengikuti pembinaan yang dilakukan oleh kita. Tujuan dari membangun massa ini adalah memperkenalkan Islam, dan menjadikan Islam sebagai way of life. Islam yang komprehensif dan menjadi solusi dalam kehidupan. Ada dua metode utama dalam memperkenalkan Islam ini.
1. Dakwah dengan melayani
Menilik sirah nabawiyah, proses yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah menjadikan beliau Al Amin setelah itu mengangkatnya sebagai Rasul. Dalam hal ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa Rasul telah sukses melayani kota mekah sehingga beliau diberi gelar tersebut barulah beliau berdakwah, pelayanan dahulu baru dakwah. Memberikan apa yang umat butuhkan, memang butuh kita sadari bahwa kebutuhan umat sangat variatif, akan tetapi justru di situlah seni bagaimana kita bisa membuktikan bahwa Islam bisa sebagai solusi dalam segala permasalahan yang ada. Jika kita membicarakan dakwah kampus, maka yang kita berikan haruslah sesuai dengan kebutuhan, sebutlah menyediakan informasi tempat tinggal yang murah dan nyaman, memberikan pelayanan fotokopi buku atau bahkan menyediakan buku kuliah dan catatan kuliah, menyediakan tempat bertanya terkait Islam dan syariatnya, memberikan informasi dalam bentuk tulisan, booklet tentang kampus, kota , dan lain sebagainya. Pelayanan ini bisa sangat variatif pula bentuknya sehingga semakin banyak yang memikirkan ini akan semakin banyak varian metode dakwah yang bisa digunakan.
2. Dakwah dengan memimpin
Jika konsep dakwah sebelumnya dengan tipikal menyentuh grass root. Dakwah dengan memimpin adalah pendekatan yang lebih struktural. Walau sebenarnya tidak sekaku itu dalam pelaksanaanya. Dengan memimpin dalam sebuah kelompok, mulai dari kelompok kecil seperti ketua kelompok tugas, ketua kelas, ketua lomba riset hingga ketua kelompok yang lebih besar seperti ketua himpunan mahasiswa, ketua panitia dan sebagainya. Dengan memimpin ini seorang kader bisa menunjukkan bagaimana etos kerja yang dimilkinya bisa membawa kelompok tersebut kearah keberhasilan dan kearah lebih baik. Dalam memimpin ini seorang kader juga bisa berdakwah secara kecil-kecilan dan menanamkan kultur Islam di dalam kelompok. Seperti membiasakan shalat tepat waktu, memulai segala sesuatu dengan niat dan do’a, membiasakan berdo’a kepada Allah dalam setiap keadaan, dan memberikan sebuah nilai-nilai lainnya kepada objek dakwah. Sehingga timbul personal trust seseorang kepada kita , dan menilai bahwa kader kita adalah seseorang yang kuat dan bertanggung jawab, serta mulai meyakini bahwa pola hidup atau way of life yang dilakukan dan dianut oleh kader kita adalah sebuah pemahaman yang baik. Harapan yang bisa timbul adalah kedepannya ada kepercayaan yang ada di masyarakat, dan ketika kader kita menyampaikan risalah Islam, tidak terjadi penolakan diantara masyarakat atau bisa dikatakan objek dakwah kita menerima apa yang akan kita sampaikan.
Setelah menjalani dua varian metode ini, dakwah ini juga butuh sebuah wadah yang bisa menampung simpatisan ini untuk mengikuti pembinaan dan menjadi bagian dari massa kita juga. Wadah ini diharapkan bisa menjadi media yang tepat dalam mengembangkan potensi simpatisan ini agar selanjutnya bisa menjadi kader dakwah pula. Sistem permentoringan atau dalam istilah lain kita kenal dengan usrah atau liqo’ atau halaqoh menjadi wadah yang sangat tepat untuk menampung dan membina para objek dakwah ini. Mentoring adalah proses transfer nilai antara mentor dan binaanya. Dalam proses mentoring ini seorang mentor diharapkan bisa membina 7-10 adik mentor atau binaanya dan memberikan ilmu serta pemikiran yang ada dalam rangka membuat frame berpikir yang Islami. Proses mentoring ini tidak hanya sampai pada tahapan memberikan ilmu, akan tetapi lebih lanjut, mentoring ini bisa menjadi sebuah keluarga kecil bagi para anggotanya. Oleh karena itu makan seorang mentor diharapkan bisa memilki beberapa fungsi , antara lain :
a. Guru, seorang guru yang memberikan ilmu kepada muridnya
b. Pemimpin, seorang pemimpin yang bisa mengarahkan binaanya menuju masa depan yang sesuai dengan koridor yang benar
c. Kakak/Sahabat, sebagai tempat mencurahkan isi hati dikala susah dan butuh bantuan
d. Da’i, dimana seorang mentor tidak hanya memberikan ilmu, akan tetapi juga menyiapkan binaanya untuk menjadi calon mentor di masa yang akan datang
Proses dalam mentoring ini bisa dengan mudah terus bertambah, dan bercabang hingga tidak terbatas, kader inti yang telah dibina sebelumnya sebisa mungkin menjadi mentor utama, dan diharapkan bisa mengembangkan cabang dan ranting kelompok mentoringnya hingga tak terbatas. Disinilah bagaimana kita akan menguatkan basis massa, basis massa yang kuat akan menopang dakwah ini dan memudahkan langkah kita untuk mebuat gerakan dakwah kita lebih terbuka dan masif.

Tahap ketiga : membangun basis institusi
Pada tahap ini dakwah yang dilakukan di kampus sudah mulai terlembagakan secara formal dan wajar dalam sebuah instansi dakwah bernama Lembaga Dakwah Kampus ( LDK ). LDK disini dibangun atas kebutuhan dan tuntutan dari basis massa yang ada, karena bagaimana pun sekelompok orang atau komunitas yang mempunyai tujuan perlu dilembagakan secara formal agar gerak dakwah menjadi lebih mudah dan legal. Perlu dipahami bahwa dengan mengikuti tahapan yang ada, pembangunan LDK ini menjadi lebih kepada kebutuhan alamiah ketimbang memaksakan pembangunan LDK. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memulai melegalkan dan mendirikan LDK ini.
a. Basis Massa yang Setia
Dalam membuat sebuah lembaga di kampus, biasanya memerlukan quota minimal untuk mendirikannya. Quota minimal ini selain untuk memenuhi syarat birokrasi , juga untuk memastikan agar regenerasi dakwah yang ada dapat berjalan. Keberadaan basis massa ini diharapkan terdiri dari berbagai angkatan yang masih ada di kampus. Selanjutnya basis massa inilah yang akan menjadi bangunan yang kokoh dalam mengembangkan LDK di masa yang akan datang.
b. Birokrasi Kampus yang Mendukung
Perlu dipahami bahwa keberadaan LDK tidak bisa terlepas dari kampus dan tata tertib serta birokrasi yang ada di dalamnya. Pendekatan personal ke pihak rektorat, dosen, dan birokrasi kampus lainnya adalah sebuah tuntutan yang perlu kita penuhi agar proses legalisasi ini bisa berjalan mulus. Pendekatan ini dilakukan sejak kita mempunyai basis massa, agar ketika jumlah massa yang dimiliki cukup, pendirian LDK menjadi lebih mudah.
c. Bentuk Lembaga Dakwah Kampus
Menurut pengamatan saya ada beberapa bentuk yang bisa di ajukan sebagai wadah legal formal LDK. Bentuk LDK yang pernah ada antara lain.
Pertama, LDK sebagai unit kegiatan mahasiswa, dimana LDK sebagai unit kerohanian, ini adalah bentuk ideal dan paling diharapkan bisa terbentuk.
Kedua , LDK dengan bentuk Dewan kesejahteraan Masjid, bentuk LDK seperti ini, jika ternyata sudah ada LDK lain di kampus, atau pihak birokrasi ternyata tidak setuju dengan adanya LDK.
Ketiga , LDK berada di bawah Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ), LDK ini berada di bawah departemen kerohanian di BEM.
Keempat, Jika ternyata sudah ada LDK lain yang kuat, pergerakan dakwah ini bisa dengan membangun basis lembaga dakwah di Fakultas, dengan bentuk LDF, perlu disadari bahwa massa real yang ada kampus berada di fakultas, dan dengan adanya lembaga di fakultas ini daya rangkul kader kita akan lebih optimal.
Kelima, Jika ternyata, di kampus sudah ada LDK lain, yang mungkin kurang begitu aktif, dan pihak birokrasi tidak mengizinkan adanya LDK lagi, maka proses infiltrasi ke LDK yang sudah ada menjadi pilihan. Dengan basis massa yang sudah kuat dan setia, kader kita bisa saja secara bertahap mengisi pos-pos yang ada di LDK tersebut, hingga suatu saat ketua LDK beserta jajaran tim intinya adalah kader kita yang punya pemikiran dan gerak dakwah yang sesuai, memang butuh waktu lama akan tetapi, pola ini akan lebih “cantik” dan “apik”.
Setelah Lembaga ini terbentuk perlu dipenuhi beberapa syarat kelengkapan lembaga agar fungsi lembaga dakwah ini bisa optimal. Kelengkapan ini antara lain.
Pertama, Adanya tata organisasi yang sesuai, adanya ketua,sekretaris,bendahara, dan ketua departemen . Untuk LDK mula, departemen yang dibutuhkan antara lain, departemen kaderisasi, departemen syiar dan pelayanan kampus, serta departemen dana. Tiga departemen ini bisa dikatakan kebutuhan dasar sebuah LDK. Dengan pertimbangan jumlah SDM yang terbatas, adanya tiga departemen ini seharusnya bisa menjalankan fungsi LDK dengan baik. Dalam perkembangannya, sebuah LDK diharapkan bisa memenuhi beberapa fungsi lainnya yang menjadi fungsi pokok ( sektor dakwah ) dan diturunkan dalam bentuk departemen, yakni :
a. Sektor Internal ( kaderisasi, mentoring, rumah tangga )
b. Sektor An nisaa / Kemuslimahan
c. Sektor Syiar dan Pelayanan Kampus ( media, event )
d. Sektor Keuangan
e. Sektor Jaringan ( Humas )
f. Sektor Akademik dan Profesi
g. Sektor Kesekretariatan ( administrasi, Litbang )
Tujuh sektor ini adalah representatif dari bentuk serta fungsi yang harus dipenuhi LDK dalam keadaan ideal. Memang butuh waktu dalam membangun LDK hingga tahap ini, akan tetapi bisa saja dalam proses perkembangan LDK , dua fungsi bisa digabung dalam satu departemen. Tergantung dari kapasitas dan kuantitas kader yang ada.
Kedua , Diperlukannya sebuah tata nilai dan tata hukum atau pedoman dakwah yang diberlakukan di sebuah organisasi termasuk LDK. Kebutuhan pedoman dakwah ini, antara lain Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Visi dan Misi serta perangkat sederhana lainnya yang bisa membuat kader kita terarah dalam menjalankan gerak dakwahnya. Seiring waktu, sebuah LDK juga perlu memiliki pedoman dakwah yang lebih advance, ada beberapa contoh disini, Saudara kita di SALAM UI mempunyai Manajemen Mutu SALAM UI (MMS UI), dimana di dalamnya terdapat berbagai aturan dan norma serta standarisasi yang digunakan dalam pengelolaan LDK. Kawan-kawan di UNDIP, memiliki sebuah komitmen bersama antara LDK dan LDF sehingga gerak dakwah LDK dan LDF menjadi sinergis, di GAMAIS ITB, kami memiliki Pedoman Lembaga Dakwah Kampus GAMAIS ITB ( PLDK GAMAIS ITB ), dimana di dalam nya terdapat blue print GAMAIS ITB 2007-2013, Rencana Strategis Jangka Panjang 2008-2010,dan Panduan Fiqih Praktis Aktifis Dakwah. Berbagai bentuk yang ada disesuaikan tergantung kebutuhan dari LDK, semakin besar LDK, semakin detail pula aturan yang ada, karena dalam tahapan kemandirian LDK, sistem lah yang akan dibangun, karena dengan sistem yang kuat, akan menghasilkan kader yang kompeten pula di masa yang akan datang.
Ketiga, Adanya mekanisme kaderisasi berkelanjutan bagi kadernya. LDK adalah lembaga kaderisasi, sehingga fungsi kaderisasi atau membina kader menjadi fungsi utama, dan harus senantiasa menjadi dinamo yang tidak kenal henti. Sebuah lembaga yang baik haruslah memberikan kemanfaatan bagi kadernya. Meningkatkan kapasitas serta keilmuan yang bisa menunjang aktifitas kader di LDK maupun di kehidupan sehari-hari. Ini menjadi syarat yang mutlak untuk memastikan sistem regenerasi LDK ini bisa berkelanjutan dan membuat dakwah kita di kampus bisa bertahan lama.

Tahap Keempat : Membangun bangunan kampus secara keseluruhan dengan konsep Islam
Legalitas LDK yang ada memudahkan gerak dakwah kita menjadi lebih dinamis dan bebas. Kekuatan formal lembaga ini memberikan banyak kemudahan bagi kita untuk berbuat lebih di kampus. Pada tahap keempat ini varian metode dan objek dakwah semakin luas, dan bisa dikatakan tidak terbatas, semua tergantung manajemen kreatiftas dan inovasi dari kader LDK. Lingkup dakwah pertama yang harus dipenuhi adalah civitas akademika di kampus kita. Selanjutanya bisa meningkat menjadi lingkup Kota lalu nasional, dan Internasional. Pada lingkup civitas akademika ini ada beberapa stakeholder yang bisa kita lakukan pendekatan dakwah.
Mahasiswa, objek utama dalam dakwah kampus kita, ketika lembaga sudah ada, metode dakwah bisa kian variaif. Pembuatan event syiar, seperti ta’lim, tabligh, outbound, kajian, olahraga bareng atau mungkin mabit. Media LDK juga bisa semakin terbuka, seperti pamflet, poster, spanduk, baligo, atau perangkat multimedia lainnya. Dengan adanya lembaga yang legal, agenda syiar pun seharusnya akan mendapat respons lebih dari massa kampus. Akan tetapi walaupun sudah ada lembaga yang formal, metode dakwah dengan pelayanan, dakwah dengan memimpin serta wadah mentoring yang ada harus tetap dijalankan. Karena ini merupakan metode klasik yang masih bisa digunakan sampai kapanpun.
Dosen , dakwah ke dosen butuh pendekatan yang lebih persuasif, cara dakwah ke dosen bukan dengan menceramahinya akan tetapi dengan memberikan kesempatan kepada beliau untuk mengisi di acara-acara LDK sesuai dengan kompetensinya atau melibatkan dosen dalam kegiatan seperti sebagai penasihat atau tempat konsultasi. Selain itu memberikan sedikit kenang-kenangan kepada dosen, seperti buku, bisa menjadi media dakwah yang tepat untuk dosen, karena dosen biasanya gemar membaca. Dengan adanya keterlibatan ini, dosen akan mempunyai sense of belonging terhadap LDK dan akan lebih peduli terhadap gerak dakwah kita dan LDK kita.
Birokrasi kampus, pendekatan ke birokrasi kampus hampir sama dengan pendekatan ke dosen. Akan tetapi bisa ditambah dengan silahturahim rutin dalam rangka meningkatkan kedekatan dan kepercayaan satu sama lain. Dengan kedekatan dan kepercayaan ini, gerak dakwah kita akan lebih di dukung dan bisa lebih cepat berkembang.
Karyawan Kampus, karyawan dalam hal ini ada elemen administrasi kampus, satpam, penjaga kantin, merupakan bagian dari kampus yang perlu kita dakwahi. Keteladanan kita, budi pekerti serta akhlak yang baik serta dikenal sebagai mahasiswa yang bermoral menjadi metode dakwah yang bisa digunakan, dukungan dari karyawan kampus ini biasanya juga akan mendukung dakwah secara umum. Karena jumlah mereka yang banyak dan punya peran di kampus. Selain itu, pengadaan ta’lim khusus karyawan atau mungkin memberikan bingkisan untuk mereka di momen tertentu bisa menjadikan kedekatan kita dengan mereka lebih erat.

Pengamatan saya menilai tidak ada metode dakwah yang terbaik diantara metode dakwah di berbagai kampus, yang ada adalah metode dakwah yang tepat. Setiap kampus mempunyai kekhasan tersendiri, dan menjadi tanggung jawab bagi kita untuk bisa mengformulasikan metode dakwah yang paling tepat untuk kampus kita. Berpegang pada tahapan ini, akan sangat membantu paradigma berpikir kita dalam mengembangkan Lembaga Dakwah Kampus.

Tulisan ini ditujukan untuk semua aktifis dakwah di Indonesia
Terutama untuk saudara ku yang sedang berjuang membangun LDK
Untuk saudaraku yang sedang berjuang menguatkan LDK
Untuk saudaraku yang akan mempercepat pertumbuhan LDK di wilayahnya
Dari LDK mula, LDK muda, LDK madya, dan hingga LDK mandiri

Ditulis oleh
Ridwansyah yusuf achmad
Kepala LDK GAMAIS ITB
http://ridwansyahyusuf.blogspot.com
yusuf_ahdian@yahoo.co.id
ridwansyahyusuf@gamais.itb.ac.id

tulisan ini boleh disebarluaskan secara bebas dengan mencantumkan identitas penulis (right to copy )
semoga bermanfaat

Sabtu, 02 Februari 2008

PUSKOMDA makassar



the best puskomda i ever met...
saya kurang lebih sudah pernah bertemu dengan beberapa puskomda, termasuk GAMAIS ITB juga PUSKOMDA di bandung Raya. patut saya acungkan 2 jempol untuk puskomda makassar. Di koordinatori oleh fitrah fitri adjo seorang mahasiswa FK UNHAS , PUSKOMDA ini dengan gesit mengembangkan sayap FSLDK di makassar, pendampingan demi pendampingan, pendirian LDK, mensuplai mentor, melegalkan mentoring, quesioner rutin setiap 3 bulan. sampai pelatihan dakwah kampus 3 hari 2 malam. PUSKOMDA disini juga sudah mendapat pengakuan dari LDK lain, terlihat dari adanya waktu untuk sambutan puskomda di pelantikan ketua LDK baru. Dengan target membuat LDK di 120 kampus yang ada, PUSKOMDA makassaR memegang peranan penting di kota ini. karena banyak seklai LDK yang bergantung kepada mereka. SEMANGAT JI !!

LDK FITRAH UMI makassar


berbicara kampus islam, tentu kita akan teringat tentang susahnya dakwah di kampus ini. Ada sebuah pertanyaan yang ada saat itu ."bagaimana dakwah yang tepat di jurusan agama yang notabenenya ilmu mereka lebih kuat dari kita?"
wah dilematika memang menjawab itu, jujur saya belum menemukan jawabannya, LDK fitrah ini belumlah legal, masih butuh banyak perjuangan, akan tetapi menurut penuturan dari kader mereka, tidak sulit untuk melegalkan LDK ini, secara juga, jumlah kader mereka sudah cukup banyak. Saat ini mereka sedang mengembangkan sayap-sayap mereka ke dakwah fakultas agar bisa lebih menyentuh masa. LDK FITRAH ini diketuai oleh Rudi Mahmud jurusan bahasa arab. Seorang yang rendah hati dan lucu dari ternate.

LDK Al Jami UIn Sultan Alaudin Makassar


Dakwah di kampus ISlam ternyata memang lebih sulit ketimbang di kampus umum. Mungkin mahasiswa di kampus Islam merasa sudah memiliki kemampuan agama lebih, sehingga tidak lagi memerlukan lagi lembaga dakwah kampus. pada kampus ini pun hal serupa terjadi. sulit menemukan mahasiswa jurusan agama yang menjadi anggota LDK, akan tetapi menurut akh arman ( ketua LDK UIN Sultan Alaudin ) belakangan sudah mulai berkembang dan masuk ke LDK. Terkadang di jurusan agama terjadi penyimpangan terhadap agama, terutama pada jurusan filsafat islam. dimana banyak dari mereka yang tidak sholat. menurut akh arman, disini terjadi dilematika, pada sebuah kampus Islam, ternyata pada saat waktu shalat , banyak yang tidak shalat. LDK Al Jami ini baru berusia 2 tahun, masih sangat muda untuk sebuah LDK, akan tetapi dukungan dari rektorat/birokrasi di UIN sangat kuat dan cukup banyak juga peminat dari LDK ini, sekitar 40-50 orang terdaftar sebagai anggota LDK.
Pada kunjungan saya kesana , saya dan luthfi dipertemukan kepada rektor dan PR3 UIN Makassar, disana setelah diskusi cukup panjang, pihak rektorat sepakat untuk memulai mewajibkan kegiatan mentoring di kampus UIN, dan memulai pengembangan dakwah di fakultas agar dakwah di UIN lebih mengena dan kena sasaran. Subhanallah memang dukungan birokrasi UIN ini, Saya punya keyakinan besar dengan semangat yang ada, 3-4 tahun mendatang LDK al jami UIN sultan alaudin bisa menjadi LDK yang besar dan berpengaruh di indonesia timur.

FKMKI UNHAS


forum komunikasi mushola dan kerohanian islam Universitas hasanuddin ( FKMKI UNHAS )

sebagai kampus terbesar dan rujukan di indonesia timur, UNHAS memiliki sebuah kekuatan dan kekhasan tersendiri. UNHAS yang saat ini sudah memiliki sebuah LDK yang bernama MPM ( mahasiswa pencinta mushola ). akan tetapi beberapa kawan lain menilai bahwa ada pemikiran lain terkait islam yang harus dikembangkan , oleh karena itu beberapa kawan-kawan disana menginisiasi FKMKI, saat ini aktivis dakwah kampus di UNHAS berjumlah lebih dari 1000 orang yang juga telah tersebar di seluruh fakultas di UNHAS. FKMKI saat ini sedang berjuang menuju legalitas organisasi, meskipun memang kegiatan-kegiatan FKMKI ini sudah di dukung oleh rektorat, agenda terdekat FKMKI yang mengundang bapak menpora adalah FKMKI fire!! . FKMKI saat ini di ketuai oleh bro syahban.

7 hari 6 malam di kota makassar


Jika mendengar nama propinsi sulawesi selatan, kita akan teringat akan adegan adegan kekerasan di televisi yang terjadi di propinsi ini. Demo yang vandalis, mahasiswa yang berantem, serta pilkada yang tak kunjung usai. Yah memang terkadang televisi seringkali tidak adil dalam menyampaikan berita. But anyway, sepekan di kota tersebut, bisa memberikan gambaran kepada saya betapa beratnya dan panasnya tinggal di kota makassar.

Kita akan berbicara tentang dakwah kampus dengan tentunya objek utama Lembaga dakwah kampus ( LDK ). Makassar dengan 120an kampus di dalamnya serta di dominasi oleh kampus kesehatan saat ini baru memiliki sekitar 50an kampus yang sudah memiliki LDK dan 20an lagi sudah ada orang yang menginisiasi dan akan membuat LDK. Dari sekian kampus yang ada bisa dikatakan baru dua yang sudah baik ( dalam levelisasi FSLDK level madya ), yakni UIN sultan alaudin dan UNHAS. Tidak ada LDK level mandiri di daerah ini. Sungguh sangat disayangkan padahal makassar adalah pusat indonesia timur. Pergerakan dakwah di makassar di dominasi oleh KAMMI, sehingga terjadi tarik-tarikan kader disana, dan timbul paradigma bahwa LDK adalah lembaga kelas 2 dibawah KAMMI. Seringkali kader LDK berasal dari KAMMI. Banyak sekali LDK disini yang belum legal, sebutlah salah satunya FKMKI UNHAS, LDK ini belum legal karena di kampus ini sudah ada LDK lain, yang di pimpin oleh mitra dakwah kita. Mereka menyebutnya “wahdah” sebuah geraka dakwah yang berkembang kuat di sulawesi. Karena sudah adanya LDK ini, pihak birokrasi sepertinya sulit untuk melegalkan 2 LDK dalam satu kampus. Saya pun berpikir demikian, tidak ada gunanya membuat dua LDK dalam sebuah kampus, hal ini justru akan menimbulkan perpecahan di kampus tersebut.

LDK yang lain di kampus lainnya juga kurang lebih mengalami permasalahan yang sama, sangat berat, gesekan dengan gerakan lain, birokrasi yang tidak koorperatif, kader yang sedikit, akses internet yang terbatas. Terkadang dalam hati saya berkata”mungkin kalau saya menjadi ketua LDK di makassar saya tidak akan kuat bertahan diatas 1 pekan”. Tapi , disini saya menemukan sosok sosok yang terus berjuang dalam keterbatasan potensi, hal ini yang selalu saya acungkan jempol dari ikhwah di luar jawa, ada keikhlasan dan raut muka berjuang keras demi tegaknya Islam , bukan untuk kekuasaan dunia belaka. LDK disini memang masih juga terbatas dari akses teknologi dan permasalahan yang dihadapi sangat ribet ( atau ini hanya paradigma saja ). Dilihat dari pertanyaan yang ada saat diskusi.

“bagaimana menghadapi pemimpin yang munafik?”

“bagaimana membuat proposal dengan corel draw ?”

“LDK kami masih muda, apa yang harus kami lakukan terlebih dahulu?”

“mentor kami kurang, lalu harus bagaimana?”

Dan sebagainya. But anyway, sebagai kota yang dijuluki serambi madinah, karena banyak masjid dan banyaknya umat muslim di kota ini, keyakinan makassar bisa menjadi pusat dakwah mahasiswa di indonesia timur sangat mungkin menjadi keniscayaan. Melihat semangat peserta yang mau datang 1 hari 1 malam perjalanan untuk mengikuti pelatihan, meihat kekuatan dari LDK yang ada, dan terus berkembang dan melebarkan sayapnya.

Selasa, 22 Januari 2008

UKKI UNNES


mengisi di UNNES euy, kampus IKIP nya semarang, terletak di atas bukit di kota semarang, perjalanan sekitar 30 menit dengan motor ini, dengan menumpang kawan-kawan UNNES. kami sampai di sebuah pasar di dekat UNNES, kami dibelikan sarapan semacem nasi plus urap gitu ( saya lupa euy namanya ... ).. nasi kremben kalo gak salah sih ... dan makanan kue2 manis gitu, macem-macem bubur sum sum ... dan yang paling penting adalah harganya cuy, cuma 1500

sarapan pagi kami di sekretariat UKKI ( unit kegiatan kerohanian Islam ) UNNES, di dalam sekre yang sangat rapih dan besar ... ( kalah kali GAMAIS ), tapi emang kayaknya sekre gamais tuh sekre LDK yang paling kecil kayaknya.anyway, kami disambut dengan kehangatan dari beberapa kader UKKI.

pukul 09.00 acara training di mulai, saya tampil sebagai one man show training... behubung rohmad gak mau ngisi, dan adjie masi belum pede .... sekitar 1 jam saya menerangkan dengan full speed materi tentang ke-LDK-an, ke-PUSKOMDA-an dan ke-permentoringan, jujur itu gak sehat untuk mengisi training, terlalu banyak materi dan waktunya terlalu sempit, sehingga saya harus terlalu cepat menyampaikannnya...

sampai jam 12.00 saya harus mengisi disana, a little bit less "ruh" disana, ntah karena memang iklimnya seperti itu atau memang kebetulan saja seperti itu ?
ataukah saya yang memang tidak menyenangkan ? wallahu'alam bi shawaf, anyway it's a hard training, karena pembicaraan tidak fokus...

lalu, kita diskusi dengan abang-abang kampus, di sekre UKKI, sambil makan siang, diskusi berkisar masalah di kampus UKKi, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa masalah setiap LDK itu sama, sangat sama, hanya perbedaan sedikit dari beberapa variabel,
kedua masih banyak yang menjadikan amanah di LDK itu sebagai amanah sambilan, sehingga pandangan atau sugesti negatif terjadi... efeknya memang banyak LDK yang sulit berkembang karena paradigma ini..

ada satu hal yang sangat dahsyat dari orang-orang IKIP ini ( IKIP di manapun ) , perlu di sadari bahwa IKIP ini akan menjadi calon guru di masa yang akan datang, bayangkan jika setiap tahun 1000 guru lulus dan semuanya memiliki pemahaman islam dan dakwah yang baik, subhanallah, saya yakin suatu saat dikemudian hari, perubahan karakter manusia indonesia bisa terbentuk.. viva IKIp... majulah kalian...